Jumat, 09 Juni 2023

Sarekat Islam : Sejarah, Latar Belakang, Tokoh dan Kemuduran Organisasi Sarekat Islam (SI)


Sarekat Islam (SI) – Ada banyak organisasi pergerakan nasional, salah satunya adalah Sarekat Islam. Syarikat Islam (SI) atau Sarekat Islam, dahulu bernama Sarekat Dagang Islam (disingkat SDI) didirikan pada tanggal 16 Oktober 1905 oleh Haji Samanhudi. SDI merupakan organisasi yang pertama kali lahir di Indonesia. Awalnya, organisasi yang dibentuk oleh Haji Samanhudi dan kawan-kawan merupakan perkumpulan pedagang-pedagang Islam yang menentang politik Belanda memberi keleluasaan masuknya pedagang asing untuk menguasai komplar ekonomi rakyat pada masa itu.


Sejarah Singkat Sarekat Islam

Awalnya, Sarekat Dagang Islam (SDI) adalah organisasi yang didirikan di Surakarta pada 16 Oktober 1905 dengan beranggotakan para saudagar Islam. Pendiri organisasi dagang ini adalah Haji Samanhudi

Tujuan awal sarekat dagang islam adalah untuk menyatukan para saudagar muslim pribumi terutama pengusaha batik agar dapat bersaing  dengan para saudagar keturunan Tionghoa.

Masa itu, usaha milik para saudagar keturunan Tionghoa sudah lebih maju dan lebih tinggi hak dan kedudukannya dibandingkan penduduk Hindia Belanda lainnya. Kesengajaan pemerintah Hindia Belanda menciptakan kebijakan tersebut menyebabkan terjadinya perubahan sosial karena kesadaran kaum pribumi yang dikenal dengan Inlanders mulai muncul.

Sarekat Dagang Islam adalah perkumpulan dibidang ekonomi yang berlandaskan Islam dengan dasar penggeraknya ialah perekonomian rakyat. Pada saat dipimpin oleh H. Samanhudi, sarekat dagang ini berkembang dengan pesat dan menjadi organisasi yang mendominasi. Pada 1909, R.M. Tirtoadisurjo membentuk Sarekat Dagang Islamiyah di Batavia. Pada tahun 1910, Tirtoadisuryo membentuk organisasi sejenis di Buitenzorg. Selain itu, di Surabaya H.O.S. Tjokroaminoto mendirikan organisasi serupa pada tahun 1912. Bersama Hasan Ali Suratin, Tjokroaminoto masuk Sarekat Islam (SI). Pada tahun 1912, Tjokroaminoto yang terpilih sebagai petingginya dan mengubah nama Sarekat Dagang Islam (SDI) sebagai Sarekat Islam (SI). Tujuan perubahan nama tersebut adalah agar organisasi tidak hanya bergerak dalam bidang ekonomi, tetapi juga dalam bidang lain seperti politik.

Keanggotaan sarekat Islam tidak hanya dibatasi untuk bangsawan Jawa dan Madura saja. Tujuan Sarekat Islam adalah menjalin persaudaraan, persahabatan dan tolong-menolong antar muslim serta memajukan perekonomian rakyat. Keanggotaan Sarekat Islam (SI) terbuka untuk semua lapisan masyarakat muslim. Pada saat Sarekat Islam mengajukan diri menjadi Badan Hukum, Gubernur Jendral Idenburg menyatakan keberatan. Badan hukum hanya diberi kepada Sarekat Islam lokal saja. Meski tidak ada unsur politik dalam anggaran dasarnya, tapi kegiatan Sarekat Islam meletakkan ketertarikan yang besar pada politik dan memprotes pemerintah kolonial yang melakukan ketidakadilan juga penindasan. Artinya Sarekat Islam (SI) memiliki jumlah anggota yang banyak sehingga menimbulkan kekhawatiran pemerintah Belanda.

Apabila dilihat dari anggaran dasarnya, Tujuan Sarekat Islam (SI), diantaranya yaitu:

  • Mengembangkan jiwa dagang.
  • Membantu pata anggota yang mengalami kesulitan dalam usahanya.
  • Memajukan pengajaran dan semua usaha yang mempercepat kenaikan derajat rakyat.
  • Memperbaiki  berbagai pendapat yang keliru tentang Islam.
  • Hidup berdasarkan perintah agama.

Seiring perubahan waktu, akhirnya pada bulan Maret tahun 1916 Sarekat Islam pusat menerima penetapan sebagai Badan Hukum. Setelah pemerintah mengizinkan berdirinya partai politik, Sarekat Islam beralih menjadi sebuah partai politik dan pada tahun 1917, SI mengutus wakil ke Volksraad (semacam dewan rakyat), yakni HOS Tjokroaminoto; sedangkan Abdoel Moeis yang juga tokoh CSI menjadi anggota volksraad bukan sebagai tokoh SI pusat tapi atas namanya berdasarkan ketokohannya. Tak lama berada Volksraad, Tjokroaminoto mengundurkan diri, karena volksraad dianggap sebagai “Boneka Belanda” yang hanya mengutamakan kepentingan  mereka dan mengabaikan hak pribumi. Pada saat itu, HOS Tjokroaminoto menyuarakan agar bangsa Indonesia diberi hak untuk mengatur sendiri segala urusan pemerintahannya, tapi pihak Belanda menolaknya.FPol

Pada Januari 1913, Sarekat Islam mengadakan kongres pertama di Surabaya. Dalam kongres pertama ini, Tjokroaminoto menyatakan bahwa SI bukan merupakan organisasi politik dan bertujuan untuk meningkatkan perdagangan antarbangsa Indonesia, membantu anggotanya yang mengalami kesulitan ekonomi serta mengembangkan kehidupan relijius dalam masyarakat Indonesia.

Selanjutnya, kongres kedua diadakan di Surakarta yang menegaskan bahwa SI hanya terbuka bagi rakyat biasa. Para pegawai pemerintah tidak boleh menjadi anggota. Pada tanggal 17-24 Juni 1916 diadakan kongres SI yang ketiga di Bandung. Dalam kongres tersebut, SI sudah mulai melontarkan pernyataan politiknya. SI bercita-cita menyatukan seluruh penduduk Indonesia sebagai suatu bangsa yang berdaulat (merdeka). Pada tahun 1917, SI mengadakan kongres yang keempat di Jakarta. Dalam kongres keempat ini, SI menegaskan ingin memperoleh pemerintahan sendiri (kemerdekaan) dan mendesak pemerintah agar membentuk Dewan Perwakilan Rakyat (Volksraad). Sarekat Islam (SI) mencalonkan H.O.S. Tjokroaminoto dan Abdul Muis sebagai wakilnya di Volksraad.

Latar Belakang Sarekat Islam

Pada zaman penjajahan, sumber daya di Indonesia dikuasai pihak asing sebagai penerapan sistem imperialisme modern Barat. Pihak kolonial menjadikan nusantara sebagai sumber bahan mentah dan pasar industri . Setelah mendengar kebijakan ekonomi yang dibuat kolonial tersebut, pada 16 Oktober 1905 Haji Samanhoedi langsung membangun Organisasi Sarikat Dagang Islam (SDI) di Surakarta sebagai tanggapan. Berita mengenai pendirian Sarekat Dagang Islam disiarkan melalui buletin Taman Pewarta.

SDI dianggap Belanda sebagai sebuah ancaman besar bagi posisi dan perkembangan ekonominya di Indonesia. Lebih-lebih, SDI berupaya bekerjasama dengan organisasi perdagangan Cina bernama Kong Sing. Sehingga pemerintah Belanda merasa perlu mendirikan organisasi yang akan bersanding dengan mereka.

Berdirinya Sarekat Dagang Islam ini menjadi simbol awal kesuksesan gerakan pembaharuan sistem organisasi Islam.  Pada kongres I Sarekat Dagang Islam diadakan di Solo pada tahun1906, Sarekat Dagang Islam berganti nama menjadi Sarekat Islam.

Kebijakan yang dilakukan Haji Samanhodi dalam Sarekat Islam sangat strategis, gerakan ini berdasarkan operasi kegiatan pasar.  Sarekat Islam bisa mendapatkan dana dipasar yang nantinya digunakan untuk melanjutkan gerakan mereka. Nama organisasi yang membawa Islam didalamnya membuat Sarekat Dagang Islam mengambil hati rakyat.

Sebagai organisasi tandingan, pada tahun 1909 M pemerintahan kolonial mendirikan Sarekat Dagang Islamiyah di Bogor dan R.M.T Adhisoerjo sebagai pemimpinnya.

Sarekat Dagang Islamiyah Adhisoerjo sangat akrab dengan Belanda. Hal ini terlihat dari ketegantungan dana dan perlindungan bagi mereka kepada Belanda. Karena tidak dapat menandingi SDI Haji Samanhoedi, selanjutnya Adhisoerjo memilih meneruskan usahanya dan memberikannya kepada Haji Samanhoedi lalu Syarekat Dagang Islamiyah dibubarkan pada tahun 1911 M.

Pada masa revolusi Cina yang terjadi pada 1911, pemerintah Belanda melihat keberadaan Sarekat Islam dan koleganya semakin berbahaya bagi kepentingan mereka. Kemudian Belanda berupaya mengadu domba Sarekat Dagang Islam dan Kong Sing.

Awalnya, Belanda menciptakan konflik dengan mempersulit para produsen batik pribumi memperoleh bahan batik mereka. Dengan memepersulit perolehan bahan yang terjadi, pemerintah Belanda menyebarluaskan bahwa hal ini terjadi karena perbuatan pedagang Cina. Tapi usaha itu percuma, justru mempererat hubungan pribumi dan Cina.

Kemudian Belanda mencari cara lain yaitu dengan menciptakan gerakan huru-hara anti Cina dengan memakai Laskar Mangkunegara untuk menghasut rakyat untuk menghancurkan toko-toko milik Cina. Hasutan tersebut  menciptakan  kegaduhan di Surakarta dan kota lainnya. Setelah rakyat tahu bahwa pelaku perusak toko adalah Laskar Mangkunegara, rakyat kembali melakukan kegiatan pasar seperti sediakala.

Pada Maret 1912, Belanda mengetahui pergerakan SI di Surabaya. Pada Mei 1912, tiga tokoh propagandis SI berkunjung ke rumah Tjokroaminoto untuk melakukan diskusi dengan hasil bahwa Tjokroaminoto siap menjadi pemimpin Sarekat Islam. Hal itu mengalihkan pandangan para pengurus Sarekat Islam di Surakarta  lalu mereka mengundang Tjokroaminoto untuk diatang ke Surakarta.  Pada 13 Mei 1912, Tjokroaminoto yang datang ke Surakarta diberi kehormatan untuk menjadi pemimpin Sarekat Islam menggantikan Haji Samanhoedi.

Kondisi tersebut kembali digunakan kembali oleh Belanda untuk mengadu domba rakyat dengan menggunakan Laskar Mangkunegara lagi untuk menciptakan huru-hara anti Cina diikuti keputusan skorsing pada SI oleh Residen Surakarta.

Muncul kerusuhan akibat skorsing tersebut. Para petani yang menjadi anggota SI menggelar aksi mogok kerja di onderming Krapyak Surakarta. Karena dikhawatirkan kerusuhan yang terjadi semakin tak terkendali maka skorsing  dicabut oleh Residen Surakarta pada 26 Agustus 1912.


Tokoh Sarekat Islam

Berikut beberapa tokoh sarekat islam, diantaranya yaitu

Kiai Haji Samanhudi

KH Samanhudi yang memiliki nama kecil Sudarno Nadi lahir pada tahun 1868 di Laweyan, Surakarta, Jawa Tengah adalah pendiri Sarekat Dagang Islamiyah sebagai wadah bagi para pengusaha batik di Surakarta.

Dalam dunia perdagangan, Samanhudi merasakan perbedaan perlakuan oleh penguasa penjajahan Belanda antara pedagang pribumi yang mayoritas beragama Islam dengan pedagang Cina pada tahun 1911. Oleh sebab itu Samanhudi merasa pedagang pribumi harus mempunyai organisasi sendiri untuk membela kepentingan mereka. Pada tahun 1911, ia mendirikan Sarekat Dagang Islam untuk mewujudkan cita-citanya. KH Samanhudi meninggal di Klaten, Jawa Tengah pada 28 Desember 1956 dan Ia dimakamkan di Banaran, Grogol, Sukoharjo. Setelah itu,Serikat Islam dipimpin oleh Haji Oemar Said Cokroaminito.

H.O.S. Cokro Aminoto

Raden Hadji Oemar Said Tjokroaminoto adalah seorang pemimpin organisasi Sarekat Islam (SI) di Indonesia. Tjokroaminoto lahir di Ponorogo, Jawa Timur, 6 Agustus 1882 dan Ia meninggal di Yogyakarta, 17 Desember 1934 pada umur 52 tahun.

Tjokroaminoto adalah anak kedua dari 12 bersaudara dari ayah bernama R.M. Tjokroamiseno, salah seorang pejabat pemerintahan pada saat itu. Kakeknya, R.M. Adipati Tjokronegoro, pernah juga menjabat sebagai bupati Ponorogo. Sebagai salah satu pelopor pergerakan nasional, ia memiliki tiga murid yang selanjutnya memberikan warna bagi sejarah pergerakan Indonesia yaitu Musso yang sosialis/komunis, Soekarno yang nasionalis, dan Kartosuwiryo yang agamis.

Pada Mei 1912, Tjokroaminoto bergabung dengan organisasi Sarekat Islam. setelah jatuh sakit setelah mengikuti Kongres SI di Banjarmasin, ia meninggal dan dimakamkan di TMP Pekuncen, Yogyakarta. Salah satu kata mutiara darinya yang masyhur adalah Setinggi-tinggi ilmu, semurni-murni tauhid, sepintar-pintar siasat. Hal tersebut menggambarkan suasana perjuangan Indonesia pada masanya yang memerlukan tiga kemampuan pada seorang pejuang kemerdekaan.

Semaun

Semaun adalah Ketua Umum Pertama Partai Komunis Indonesia (PKI) yang lahir sekitar tahun 1899 di Curahmalang, Sumobito, Mojoagung, Kab. Jombang, Jawa Timur dan meninggal sekitar tahun 1971.

Ia terjun ke dunia politik pada usia 14 tahun. Pada tahun 1914, Semaun bergabung dengan Sarekat Islam afdeeling Surabaya. Pada tahun 1915, Ia berjumpa Sneevliet yang mengajaknya bergabung ke Indische Sociaal-Democratische Vereeniging dan Vereeniging voor Spoor-en Tramwegpersoneel afdeeling Surabaya yang didirikan Sneevliet .

Pada tahun 1916, ia pindah ke Semarang dan menjadi propagandis VSTP yang digaji. Karena kemampuannya, membuat Semaun cukup dekat dengan Sneevliet.

Semaun menjadi redaktur surat kabar VSTP berbahasa Melayu dan Sinar Djawa-Sinar Hindia yaitu koran Sarekat Islam Semarang. Semaoen menjadi tokoh termuda dalam organisasi namun ia andal dan cerdas.

Pada tahun 1918, Semaun menjadi anggota dewan pimpinan SI. Saat menjabat sebagai Ketua SI Semarang, ia banyak terlibat dengan pemogokan buruh dan berhasil memaksa pengusaha menaikkan upah buruh sebesar 20% dan uang makan 10%.

Bersama Alimin dan Darsono, Semaoen berhasil mencapai cita-cita Sneevliet untuk memperluas dan memperkuat gerakan komunis di Hindia Belanda. Sikap dan prinsip komunisme Semaoen merenggangkan  hubungan dengan anggota SI lainnya. Pada 23 Mei 1920, Semaoen mengganti ISDV menjadi Partai Komunis Hindia.

Setelah 7 bulan,  Partai Komunis Hindia diubah menjadi Partai Komunis Indonesia dengan Semaoen sebagai ketuanya. Mulanya PKI adalah bagian dari SI, tapi karena perbedaan paham yang membuat SI pecah menjadi dua kubu  pada Oktober 1921.

Pada akhir 1921, Semaun  pergi ke Moskow dan sebagai gantinya posisi ketum dipegang Tan Malaka. Pada Mei 1922, Semaun kembali dan mengambilalih posisi ketum dan berusaha memberikan pengaruh pada SI tapi tak cukup berhasil.

Abdul Muis

Abdoel Moeis adalah seorang sastrawan dan wartawan Indonesia. Pendidikan terakhirnya adalah di Stovia (sekolah kedokteran, sekarang Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia), Jakarta akan namun tidak tamat. Abdul Moeis lahir di Sungai Puar, Bukittinggi, Sumatera Barat, 3 Juli 1883 dan meninggal di Bandung, Jawa Barat, 17 Juni 1959 pada umur 75 tahun.

Ia juga pernah menjadi anggota Volksraad pada tahun 1918 mewakili Centraal Sarekat Islam. Ia dimakamkan di TMP Cikutra, Bandung dan dikukuhkan sebagai pahlawan nasional yang pertama oleh Presiden RI, Soekarno, pada 30 Agustus 1959 (Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 218 Tahun 1959, tanggal 30 Agustus 1959).

Prinsip Dasar Sarekat Islam

Sejak awal pendirian Sarekat Islam di Solo pada 16 Oktober 1905 dan diresmikan melalui notaris pada 10 September 1912. SI telah menempatkan tiga prinsip sebagai dasar perjuangan, antara lain:

  • Agama Islam sebagai dasar perjuangan.
  • Kerakyatan  sebagai dasar himpunan.
  • Sosial ekonomi sebagai usaha meningkatkan kesejahteraan rakyat.

Pertama, asas agama Islam berdasarkan pernyataan langsung dari HOS Tjokroaminoto “Memang Sarekat Islam menggunakan nama agama sebagai ikatan persatuan bangsa, untuk mencapai cita-cita sebenarnya, dan agama tidak akan menghambat tujuan itu.”

Pada dasarnya, Sarekat Islam sudah menyadari bahwa kolonialisme tidak dapat dimusnahkan selain dengan iman dan takwa kepada Allah. Untuk itu, muslim harus disatukan untuk menjaga kehormatan dan harga diri Sehingga mereka harus dihimpun dalam satu tempat.

Berikutnya, asas kerakyatan dimana penderitaan rakyat akibat kekejaman Belanda menjadi salah satu alasan Haji Samanhudi mendirikan organisasi Sarekat Islam. SI berjuang bagi rakyat miskin dan hidup sengsara. Meski kebanytakan pemimpin SI berasal dari keturunan bangsawan tidak menghalangi mereka menumpas kemiskinan di tanah air.

Terakhir , asas sosial ekonomi. Pemerintah kolonial memberikan fasilitas dan hak monopoli perdagangan kepada orang Cina dimana itu  tidak diterima para pengusaha pribumi yang berakibat pada ketidak mampuan mereka untuk bersaing dengan pengusaha Cina.

Kenyataan yang terjadi, membuat  Haji Samanhoedi dan Tjokroaminoto mengerahkan potensi nasional terutama muslim untuk menghadapi monopoli Cina sebagai upaya menjaga hak dan martabat bangsa Indonesia.

Penyebab Perpecahan dalam Sarekat Islam

Pada awalnya, Sarekat Islam (SI) dilarang untuk menjalankan organisasinya oleh pemerintah Belanda pada Agustus 1912. Setelah diadakan perubahan pada anggaran dasar SI maka diperbolehkan untuk menjalankan aktivitasnya kembali. Rutgers (2012:4) menerangkan bahwa, “…pada Juni 1913, pengaktifan Pimpinan Pusat SI tidak diizinkan dan untuk sementara waktu, yang diizinkan itu hanya cabang-cabangnya belaka. Baru pada 1916 Pimpinan Pusat SI diperkenankan sesudah pengawasan pemerintah diperkuat”

Pada 26 Januari 1913 diadakan kongres Sarekat Islam pertama di Surabaya. Pada kongres tersebut pimpinan SI Oemar Said Tjokroaminoto menyampaikan intinya bahwa SI setia terhadap pemerintahan Belanda. Hal ini disebutkan dalam Rutgers (2012:4), “SI bukanlah suatu partai politik yang menghendaki revolusi seperti yang disangka kebanyakan orang.

Jika nanti diadakan pengejaran-pengejaran, kita harus meminta perlindungan terhadap gubernur Jenderal. Kita setia dan puas terhadap kekuasaan Belanda. Sungguh tidak benar, kalau kita dikatakan hendak menyebabkan huru-hara, sungguh tidak benar, kalau kita dikatakan berontak. Itu semua tidak benar, tidak, seribu kali tidak.”

Kongres Sarekat Islam I menghasilkan keputusan bahwa Sarekat Islam bukan lagi sebagai organisasi daerah Surakarta tapi organisasi terbuka yang cakupannya meliputi Hindia Belanda. Untuk itu disahkan tiga kota sebagai sentral dari Sarekat Islam meliputi Surabaya, Yogyakarta dan Bandung. Fungsi tiga kota sentral Sarekat Islam menurut Suryanegara (2012:380) diantaranya yaitu:

  • Dari centraal Sjarikat Islam (CSI) Surabaya, membangkitkan kesadaran berpolitik nasional umat Islam yang bergabung dalam Sjarikat Islam di Jawa Timur hingga seluruh wilayah Indonesia Timur;
  • Dari Centraal Sjarikat Islam (CSI) Yogyakarta, membangkitkan kesadaran politik nasional umat Islam yang bergabung dalam Sjarikat Islam di Jawa Tengah hingga seluruh wilayah Indonesia Tengah;
  • Dari Centraal Sjarikat Islam (CSI) Bandung, membangkitkan kesadaran politik nasional umat Islam yang bergabung dalam Sjarikat Islam di Jawa Barat hingga Indonesia barat.

Dalam waktu beberapa bulan sejak kongres Sarekat Islam pertama, SI sempat dibekukan. Menurut Kartodirdjo (Mulyanti, 2010: 22-23) bahwa:

“Sarekat Islam yang berdiri di Semarang sempat menyulut perkelahian antara orang Cina dengan anggota Sarekat Islam Semarang. Perkelahian tersebut terjadi di kampung Brondongan pada tanggal 24 Maret 1913. Penyebab perkelahian adalah kebencian seorang Cina penjual tahu dan nasi, bernama Liem Mo Sing terhadap orang-orang Sarekat Islam.

Semula warung Liem Mo Sing tergolong laku, buruh yang bekerja di perusahaan di dekat warungnya hampir sebagian besar menjadi langganan. Setelah di kampung Brondongan berdiri Sarekat Islam dan buruh perusahaan tersebut menjadi anggota maka berdiri toko dan koperasi. Sebagai akibat warung Liem Mo Sing tidak laku. Oleh karena itu Liem Mo Sing menjadi benci terhadap Sarekat Islam dan berusaha mengganggu orang-orang yang sedang salat, memaki-maki orang-orang Sarekat Islam dan sebagainya.

Pada hari Kamis malam tanggal 27 Maret 1913, seorang bernama Rus setelah salat Isya melihat Liem sedang bersembunyi di bawah surau. Karena diketahui Liem melarikan diri, kemudian dikejar oleh orang-orang yang sedang di surau. Akhirnya Liem tertangkap dan dipukuli, sedangkan orang-orang Cina yang berusaha melarikan diri karena takut ikut dipukuli penduduk karena dikira akan membantu Liem.”

Perselisihan dengan Tinghoa tersebut juga dituliskan oleh Rutgers (2012:5), “kejadian-kejadian seperti merampoki Tinghoa adalah juga tergolong kelompok “nasional” ini. Dalam sikap terhadap bangsa Tinghoa terdapat perubahan antara lain disebabkan oleh meletusnya Revolusi Tiongkok 1911-1912 yang menyebabkan banyak penduduk Tinghoa berubah sikap dan menyakinkan akan benarnya gerakan kemerdekaan di Indonesia juga. Sebaliknya rakyat Indonesia mulai ikut serta dalam demonstrasi yang amat menguntungkan gerakan revolusioner Tionghoa.


Pengaruh Sarekat Islam dalam Pergerakan Nasional

Pada mulanya, Serikat Islam yang dibangun oleh Haji Samanhudi bernama Sarekat Dagang Islam dengan dasar pergerakannya berlandaskan Agama dan Perekonomian Rakyat. Tujuannya adalah melindungi hak pedagang pribumi dari monopoli dagang pedagang tionghoa dan diharapkan dapat bersaing dengan asing.

Pada tahun 1912, nama Sarekat Dagang Islam diubah jadi Sarekat Islam oleh H.O.S. Tjokroaminoto agar organisasi tidak hanya bergerak bidang agama dan ekonomi saja, tapi juga dibidang politik. Setelah SI bergerak dibidang politik juga membuat gerakan organisasi menjadi lebih luas tanpa batasan anggota. Tujuan Sarekat Islam dituangkan dalam Anggaran Dasar yang tertanggal 10 September 1912; meliputi:

  • Menumbuhkan perdagangan;
  • Memberi bantuan pada anggota yang mengalami kesulitan.
  • Meningkatkan kecerdasan rakyat dan hidup berdasarkan perintah agama;
  • Mengembangkan agama Islam dan menghilangkan paham yang salah mengenai Islam.

Rencana tersebut  tetap menjafa tujuan lama dibidang perdagangan tapi ruang geraknya diperluas tidak terbatas hanya pedagang sebagai anggota. Dampak perluasan keanggotaan tersebut adalah jumlah anggota SI meningkat drastis dalam waktu yang relatif singkat. Selain itu, terjadi perluasan mobilitas terhadap rakyat karena telah muncul  nasionalisme baru. Tujuan politik belum tertulis karena partai politik masih dilarang  pemerintah .

Sarekat Islam memiliki beberapa program kerja diantaranya:

Dalam bidang politik,  SI  menghendaki pendirian dewan daerah, perluasan hak Volksraad dengan tujuan untuk merubahnya  menjadi suatu lembaga perwakilan legelatif. Selain itu, SI  juga menghendaki  dihapusnya kerja paksa dan sistem izin bepergian.

Dalam bidang pendidikan, SI menghendaki dihapusnya peraturan diskriminatif penerimaan siswa di sekolah.

Dalam bidang agama, SI  menghendaki penghapusan semua peraturan dan undang-undang yang menyebabkan penyiaran agama islam terhambat. SI juga menghendaki pemisahan lembaga yudikatif dan eksekutif serta  dibutuhkan pembentukan hukum yang sama untuk menegakan hak rakyat.

Selain itu, SI menghendaki perbaikan di bidang agraria dan pertanian dengan menghapus particuliere landerijen dan menasonalisasi industri monopolistik yang melibatkan pelayanan dan kebutuhan pokok rakyat

Dalam bidang keuangan, SI menghendaki adanya pemungutan pajak berdasarkan proporsional dan keuntungan perkebunan.

SI pun menghendaki  pemerintah melenyapkan minuman keras dan candu, perjudian, prostitusi serta melarang pemaiakan tenaga kerja anak juga membentuk peraturan perburuhan dan menambah poliklinik secara cuma-cuma.

Setelah 7 tahun memimpin, Tjokroaminoto memusatkan SI pada orang Indonesia dengan mengambil mereka dari berbagai kalangan.

Serikat Islam menyamakan kesadaran Nasional pada semua lapisan masyarakat di Indonesia, khusunya melalui Kongres Nasional Senntral Islam di Bandung pada 1916.

Pada awal perkembanganya, SI bisa memobilisasi anggota dengan sangat baik terbukti setelah  4 tahun berdiri, anggotanya mencapai 360.000 orang, Lalu hampir tahun 1919, anggotanya hampir berjumlah dua setengah juta orang.

Tidak hanya untuk mengadakan perlawanan pada pihak  Cina, SI juga bertujuan untuk membangun barisan melawan segala penghinaan yang diterima pribumi.

Awalnya,  sifat SI sangat loyal dan mendukung pemerintah. Kongres SI pertama dilakukan pada tahun 1916 di Bandung  dengan menghasilkan  kebijakan yang akan mendukung pemerintahan. Namun, ketika kongres Nasional yang diadakan di Madiun pada tanggal 17-20 Februari 1923, hasilnya yaitu pembentukan Partai Serikat Islam. Dalam kongres tersebut, juga dibahas sikap politik partai terhadap pemerintah, pada kongres ini dibahas mengenai perubahan sikap politik terhadap pemerintah dimana  partai tidak lagi percaya dan menolak kerjasama dengan pemerintah. Sikap politik ini disebut Politik Hijrah.

SI Putih dan SI Merah

Pada tahun 1917, pasca revolusi Bolshevik pada bulan Oktober, Sneesvliet yang merupakan pengasuh para aktis SI menarik ISDV menjadi sebuah organisasi yang lebih radikal. Pada 23 Mei 1920, secara resmi ISDV merubah bentuk menjadi PKI. Sejak terbentuknya PKI, para kader SI yang sebelumnya juga anggota ISDV melebur dalam PKI. Para anggota Sarekat Islam dengan keanggotaan ganda ini berpusat di Semarang.

Pada saat kongres tahun 1921 berlangsung, arah pembicaraan justru terfokus pada ideologi perjuangan. Tiap pihak saling bersikukuh terhadap arah perjuangan melalui keyakinan ideologi masing-masing. Darsono dan kawan-kawan (Semaoen berada di Rusia) sebagai wakil dari SI Semarang, tetap bersikukuh terhadap ideologi Komunisme dan Islam hanya menjadi simbol agama. Sedangkan Tjokroaminoto, Agus Salim, Moeis, serta Suryopranoto tetap pada pendirian awal yaitu Islam tetap menjadi ideologi dan cita dasar pergerakan SI dalam menentukan dasar kebangsaan menuju Indonesia yang merdeka.

Cita dasar pergerakan SI Semarang berpijak pada dua kaki yang masing-masing tergabung dalam lembaga yang berbeda, ternyata menimbulkan konflik berkepanjangan dalam tubuh organisasi. Model ideologi Komunis dinilai sangat bertentangan dengan ide dan gagasan Tjokroaminoto dan Agus Salim. Perdebatan terus berlanjut, berbagai kecaman dari kedua belah terus muncul, sehingga tidak menemukan persamaan di antara keduanya. Dari konfliklah yang menjadi penyebab pecahnya sarekat islam menjadi SI Putih dan SI Merah.

Untuk menghindari perselisihan lebih lanjut, dan keinginan untuk melanjutkan perjuangan Sarekat Islam menentang kolonialisme Belanda. Akhirnya Agus Salim, Moeis dan Suryopranoto mengakhiri hubungan dengan SI Semarang, dengan cara mengesahkan disiplin partai yang sudah disepakati oleh para peserta kongres lainnya.

Pihak SI Semarang yang sudah memprediksi hasil keputusan tersebut tetap tenang dan menerima hasil keputusan tersebut. Disiplin partai sendiri berisi himbauan untuk memilih salah satu lembaga bagi anggota SI yang sebelumnya memiliki keanggotaan ganda dengan PKI. Agus Salim dan Moeis menerapkan disiplin partai dalam SI untuk menghilangkan unsur ideologi Komunis yang telah menyebar dalam SI Semarang dan beberapa SI di sekitarnya.

Dengan berlakunya disiplin partai, sekaligus menyingkirkan anggota SI dengan keanggotaan ganda. Beberapa kelompok yang sudah menentukan sikap keluar dari SI adalah SI Semarang, Kudus, Ambarawa dan Sukabumi. SI Semarang dan beberapa cabang yang mendukungnya merubah nama menjadi Sarekat Rakyat dan tetap melebur di dalam PKI.

Jatuhnya Sarekat Islam

Partai Serikat Islam mulai mengalami kemunduran ketika susunan organisasi partai telah dirasa sempurna, Selanjutnya terjadi pemberhentian Dr. Soekiman sebagai salah satu petinggi partai.

Setelah pemecatan, Dr. Soekiman dan anak buahnya mendirikan partai bernama Partai Islam Indonesia (PII),  namun partai ini melemah setelah terjadi konflik dalam partai.

Kondisi partai terlihat dalam kongres yang diadakan pada tahun 1927 yang menyatakan bahwa tujuan perjuangan ialah menggapai kemerdekaan nasional dengan agama Islam sebagai dasarnya. Kemudian Partai Sarekat Islam bergabung dalam Pemufakatan Penghimpunan Politik Kebangsaan Indonesia.

Pada tahun 1938, Abikusno terlihat mulai tidak konsisten dengan meleburkan Partai Serikat Islam Indonesia ke GAPPI. Tujuan GAPPI adalah mempersatukan partai politik yang ada di Indonesia dengan berlandaskan pada hak mengatur diri sendiri, kebangsaan yang berdasarkan demokrasi mencapai cita-cita bangsa Indonesia.

Pada tahun 1939, kejatuhan partai semakin tampak  saat S.M. Kartosuwiryo yang menjabat sebagai sekjen sekaligus wakil presiden partai  mengundurkan diri dari kepengurusan partai secara resmi. Setelah keluar dari PSII, Kartosuwiryo membentuk lembaga Suffah yaitu lembaga yang dijadikan sebagai pusat pendidikan kaderisasi gerakan.


Demikian artikel pembahasan tentang sejarah sarekat islam. Semoga bermanfaat..




Senin, 29 Mei 2023

Struktur Budaya Lampung

 

A.    Struktur Budaya Lampung

Struktur dapat diartikan sebuah susunan yang membahas mengenai bagaimana terbentuknya suatu bangunan. Dalam kebudayaan, struktur ialah suatu hal yang selalu dikaitkan dengan sebuah wujud kebudayaan. Wujud kebudayaan dibagi menjadi tiga antara lain ialah kebudayaan yang berupa gagasan, aktivitas, dan artefak atau hasil karya. Selain dari pembagian tersebut terdapat klasifikasi lain. Klasifikasi tersebut membagi kebudayaan dalam kebudayaan materiil dan kebudayaan nonmateriil.

Sedangkan budaya merupakan suatu gaya hidup yang berkembang dalam suatu kelompok atau masyarakat, kemudian diwariskan secara turun temurun dari generasi ke generasi berikutnya. Budaya menciptakan adat istiadat, kemudian diterapkan oleh masyarakat, dan dipatuhi meskipun tidak ada hukum yang tertulis mengenai penerapannya.

Jadi struktur budaya lampung adalah sebuah susunan gaya hidup yang berkembang dalam suatu kelompok atau masyarakat lampung. Unsur budaya merupakan sistem kekerabatan dan organisasi sosial. kehidupan berbagai kelompok masyarakat diatur oleh adat istiadat di dalam  lingkungan. “Saibatin” bermakna satu batin atau memiliki satu junjungan. Hal ini sesuai dengan tatanan sosial dalam Suku Saibatin, hanya ada satu raja adat dalam setiap generasi kepemimpinan. Suku Saibatin merupakan salah satu suku asli dari Provinsi Lampung. Suku Saibatin mendiami daerah pesisir Lampung yang membentang dari timur, selatan, hingga barat.

Budaya Suku Saibatin cenderung bersifat aristokratis karena kedudukan adat hanya dapat diwariskan melalui garis keturunan. Masyarakat adat Lampung Pepadun adalah salah satu dari dua kelompok adat besar dalam masyarakat Lampung. Masyarakat ini mendiami daerah pedalaman atau daerah dataran tinggi Lampung. Berdasarkan sejarah perkembangannya, masyarakat Pepadun awalnya berkembang di daerah Abung, Way Kanan, dan Way Seputih (Pubian)

B.    Unsur-Unsur Kebudayaan di Daerah Lampung


  
Bahasa

Dari segi bahasa dan logatnya sudah bisa kita bedakan mana masyarakat lampung pepadun dan mana masyarakat pesisir, masyarakat pepadun menggunakan bahasa dengan dialek O (Nyo). Sedangkan masyarakat pesisir menggunakan bahasa dialek A (Api). Contoh penyebutan dialek A “Apa” penggunaan artinya (Api Kabar) sedangkan dialek O penggunan “Apa” kalimat yang digunakan ‘Nyo Khabar’ artinya (Apa Kabar).

Bahasa-bahasa yang digunakan di Lampung merupakan cabang Sundik yakni berasal dari rumpun bahasa Melayu-Polinesia barat. Bahasa ini digunakan tidak hanya di propinsi Lampung saja namun bagian Selatan Palembang dan Pantai Barat Banten juga menggunakan bahasa tersebut. Adapun aksara lampung yang disebut Had Lampung(KaGaNga). Aksara ini ditulis dan dibaca dari kiri ke kanan dengan Huruf Induk berjumlah 20 buah. Had Lampung ini dipengaruhi oleh dua unsur, yaitu:

1)    Aksara Pallawa (India Selatan) berupa suku kata yang merupakan huruf hidup.

2)    Huruf Arab, menggunakan tanda-tanda fathah di baris atas dan tanda-tanda kasrah di baris bawah tapi tidak menggunakan tanda dammah di baris depan melainkan menggunakan tanda di belakang dan masing-masing tanda mempunyai nama sendiri.

Berdasarkan peta bahasa, bahasa Lampung memiliki dua subdialek:

1)    Dialek Belalau (Dialek Api), terbagi menjadi:

·       Bahasa Lampung Logat Belalau dipertuturkan oleh Etnis Lampung yang berdomisili di Kabupaten Lampung Barat yaitu Kecamatan Balik Bukit, Batu Brak, Belalau, Suoh, Sukau, Ranau, Sekincau, Gedung Surian, Way Tenong dan Sumber Jaya. Kabupaten Lampung Selatan di Kecamatan Kalianda, Penengahan, Palas, Pedada, Katibung, Way Lima, Padangcermin, Kedondong dan Gedongtataan. Kabupaten Tanggamus di Kecamatan Kotaagung, Semaka, Talangpadang, Pagelaran, Pardasuka, Hulu Semuong, Cukuhbalak dan Pulau Panggung. Kota Bandar Lampung di Teluk Betung Barat, Teluk Betung Selatan, Teluk Betung Utara, Panjang, Kemiling dan Raja Basa. Banten di di Cikoneng, Bojong, Salatuhur dan Tegal dalam Kecamatan Anyer, Serang.

·       Bahasa Lampung Logat Krui dipertuturkan oleh Etnis Lampung di Pesisir Barat Lampung Barat yaitu Kecamatan Pesisir Tengah, Pesisir Utara, Pesisir Selatan, Karya Penggawa, Lemong, Bengkunat dan Ngaras.

·       Bahasa Lampung Logat Melinting dipertuturkan Masyarakat Etnis Lampung yang bertempat tinggal di Kabupaten Lampung Timur di Kecamatan Labuhan Maringgai, Kecamatan Jabung, Kecamatan Pugung dan Kecamatan Way Jepara.

·       Bahasa Lampung Logat Way Kanan dipertuturkan Masyarakat Etnis Lampung yang bertempat tinggal di Kabupaten Way Kanan yakni di Kecamatan Blambangan Umpu, Baradatu, Bahuga dan Pakuan Ratu.

·       Bahasa Lampung Logat Pubian dipertuturkan oleh Etnis Lampung yang berdomosili di Kabupaten Lampung Selatan yaitu di Natar, Gedung Tataan dan Tegineneng. Lampung Tengah di Kecamatan Pubian dan Kecamatan Padangratu. Kota Bandar Lampung Kecamatan Kedaton, Sukarame dan Tanjung Karang Barat.

·       Bahasa Lampung Logat Sungkay dipertuturkan Etnis Lampung yang Berdomisili di Kabupaten Lampung Utara meliputi Kecamatan Sungkay Selatan, Sungkai Utara dan Sungkay Jaya.

·       Bahasa Lampung Logat Jelema Daya atau Logat Komring dipertuturkan oleh Masyarakat Etnis Lampung yang berada di Muara Dua, Martapura, Komring, Tanjung Raja dan Kayuagung di Propinsi Sumatera Selatan.

2)    Dialek Abung (Dialek Nyow), terbagi menjadi:

·       Bahasa Lampung Logat Abung Dipertuturkan Etnis Lampung yang yang berdomisili di Kabupaten Lampung Utara meliputi Kecamatan Kotabumi, Abung Barat, Abung Timur dan Abung Selatan. Lampung Tengah di Kecamatan Gunung Sugih, Punggur, Terbanggi Besar, Seputih Raman, Seputih Banyak, Seputih Mataram dan Rumbia. Lampung Timur di Kecamatan Sukadana, Metro Kibang, Batanghari, Sekampung dan Way Jepara. Kota Metro di Kecamatan Metro Raya dan Bantul. Kota Bandar Lampung di Gedongmeneng dan Labuhan Ratu.

·       Bahasa Lampung Logat Menggala Dipertuturkan Masyarakat Etnis Lampung yang bertempat tinggal di Kabupaten Tulang Bawang meliputi Kecamatan Menggala, Tulang Bawang Udik, Tulang Bawang Tengah, Gunung Terang dan Gedung Aji.

 

2.     Sistem Arsitektur

Arsitektur tradisional Lampung umumnya terdiri dari bangunan tempat tinggal disebut Lamban, Lambahana atau Nuwou, bangunan ibadah yang disebut Mesjid, Mesigit, Surau, Rang Ngaji, atau Pok Ngajei, bangunan musyawarah yang disebut sesat atau bantaian, dan bangunan penyimpanan bahan makanan dan benda pusaka yang disebut Lamban Pamanohan.

Rumah orang Lampung biasanya didirikan dekat sungai dan berjajar sepanjang jalan utama yang membelah kampung, yang disebut tiyuh. Setiap tiyuh terbagi lagi ke dalam beberapa bagian yang disebut bilik, yaitu tempat berdiam buway . Bangunan beberapa buway membentuk kesatuan teritorial- genealogis yang disebut marga. Dalam setiap bilik terdapat sebuah rumah klen yang besar disebut nuwou menyanak. Rumah ini selalu dihuni oleh kerabat tertua yang mewarisi kekuasaan memimpin keluarga.

Arsitektur lainnya adalah “lamban pesagi” yang merupakan rumah tradisional berbentuk panggung yang sebagian besar terdiri dari bahan kayu dan atap ijuk. Rumah ini berasal dari desa Kenali Kecamatan Belalau, Kabupaten Lampung Barat. Ada dua jenis rumah adat Nuwou Balak aslinya merupakan rumah tinggal bagi para Kepala Adat (penyimbang adat), yang dalam bahasa Lampung juga disebut Balai Keratun. Bangunan ini terdiri dari beberapa ruangan, yaitu Lawang Kuri (gapura), Pusiban (tempat tamu melapor) dan Ijan Geladak (tangga “naik” ke rumah); Anjung-anjung (serambi depan tempat menerima tamu), Serambi Tengah (tempat duduk anggota kerabat pria), Lapang Agung (tempat kerabat wanita berkumpul), Kebik Temen atau kebik kerumpu (kamar tidur bagi anak penyimbang bumi atau anak tertua), kebik rangek (kamar tidur bagi anak penyimbang ratu atau anak kedua), kebik tengah (yaitu kamar tidur untuk anak penyimbang batin atau anak ketiga).

Bangunan lain adalah Nuwou Sesat. Bangunan ini aslinya adalah balai pertemuan adat tempat para purwatin (penyimbang) pada saat mengadakan pepung adat (musyawarah). Karena itu balai ini juga disebut Sesat Balai Agung. Bagian bagian dari bangunan ini adalah ijan geladak (tangga masuk yang dilengkapi dengan atap). Atap itu disebut Rurung Agung. Kemudian anjungan (serambi yang digunakan untuk pertemuan kecil, pusiban (ruang dalam tempat musyawarah resmi), ruang tetabuhan (tempat menyimpan alat musik tradisional), dan ruang Gajah Merem ( tempat istirahat bagi para penyimbang) . Hal lain yang khas di rumah sesat ini adalah hiasan payung- payung besar di atapnya (rurung agung), yang berwarna putih, kuning, dan merah, yang melambangkan tingkat kepenyimbangan bagi masyarakat tradisional Lampung Pepadun.


Sistem organisasi sosial

Masyarakat Lampung merupakan masyarakat dengan sistem menurut garis ayah (Geneologis-Patrilinial), yang terbagi-bagi dalam masyarakat keturunan menurut Poyang asalnya masing-masing yang disebut “buay”. Setiap kebuayan itu terdiri dari berbagai “jurai” dari kebuwaian, yang terbagi-bagi pula dalam beberapa kerabat yang terikat pada satu kesatuan rumah asal (nuwou tubou, lamban tuha).

Kemudian dari rumah asal itu terbagi lagi dalam beberapa rumah kerabat (nuwou balak, lamban gedung). Ada kalanya buay-buay itu bergabung dalam satu kesatuan yang disebut “paksi”. Setiap kerabat menurut tingkatannya masing-masing mempunyai pemimpin yang disebut “penyimbang” yang terdiri dari anak tertua laki-laki yang mewarisi kekuasaan ayah secara turun temurun.

Hubungan kekerabatan adat lampung terdiri dari lima unsur yang merupakan lima kelompok. Pertama, kelompok wari atau adik wari, yang terdiri dari semua saudara laki-laki yang bertalian darah menurut garis ayah, termasuk     saudara     angkat     yang     bertali     darah.      Kedua, kelompok lebuklama yang terdiri dari saudara laki-laki dari nenek (ibu dari ayah) dan keturunannya dan saudara laki-laki dari ibu dan keturunannya. Ketiga, kelompok baimenulung yang terdiri dari saudara-saudara wanita dari ayah dan keturunannya. Keempat, kelompok kenubi yang terdiri dari saudara-saudara karena ibu bersaudara dan keturunannya. Kelima, kelompok lakau-maru, yaitu para ipar pria dan wanita serta kerabatnya dan para saudara karena istri bersaudara dan kerabatnya.

Bentuk perkawinan yang berlaku   adalah   partrilokal   dengan pembayaran jujur (ngakuk mulei), dimana setelah kawin mempelai wanita mengikuti dan menetap dipihak kerabat suami, atau juga dalam bentuk marilokal (semanda) dimana setelah kawin suami ikut pada kerabat istri dan menetap di tempat istri.

Untuk mewujudkan jenjang perkawinan dapat ditempuh dalam dua cara, yaitu cara kawin lari (sebambangan) yang dilakukan bujang-gadis sendiri dan cara pelamaran orang tua (cakak sai tuha) yang dilakukan oleh kerabat pihak pria kepada kerabat pihak wanita.

Perkawinan yang ideal dikalangan orang lampung adalah pria kawin dengan wanita anak saudara wanita ayah (bibik, keminan) yang disebut “ngakuk menulung” atau dengan anak saudara wanita ibu (ngakuk kenubi)/ perkawinan yang tidak disukai adalah pria dan wnaita anak saudara laki-laki ibu (ngakuk kelana) atau dengan anak wanita saudara laki-lakinya (ngakuk bai/wari) atau juga dengan anak dari saudara pria nenek dari ayah (ngakuk lebu). Lebih-lebih tidak disukai kawin dengan suku lain (ulun lowah) atau orang asing. Apalagi berlainan agama (sumang agamou).

Jika dari suatu ikatan perkawinan tidak mendapatkan keturunan sama sekali, maka untuk menjadi penerus keturunan ayah, dapat diangkat anak tertua dari adik laki-laki atau anak kedua dari kakak laki-laki untuk menegakkan (tegak tegi) keturunan yang putus (maupus). Jika tidak ada anak-anak saudara yang bersedia diangkat dapat mengangkat orang lain yang bukan anggota kerabat, asal saja disahkan dihadapan kerabat dan prowitan adat. Tetapi jika hanya mempunyai anak wanita, maka anak itu dikawinkan dengan saudara misalnya yang laki-laki/ anak wanita itu dijadikan kedudukan laki-laki dan melakukan perkawinan semanda ambil suami (ngakuk ragah). Dengan begitu maka anak laki-laki dari perkawinan mereka kelak akan menggatikan kedudukan kakeknya sebagai waris mayorat sehingga keturunan keluarga tersebut tidak putus (mak mupus).

4.     Sistem peralatan hidup dan teknologi

a.     Tapis

Tapis adalah kain khas Lampung yang terbuat dari tenunan benang kapas dengan hiasan motif, sulaman benang emas atau perak. Kerajinan ini dibuat oleh wanita, baik ibu rumah tangga maupun gadis-gadis (muli-muli) yang pada mulanya untuk mengisi waktu senggang dengan tujuan untuk memenuhi tuntutan adat istiadat yang dianggap sakral. Kain Tapis saat ini diproduksi oleh pengrajin dengan ragam hias yang bermacam-macam sebagai barang komoditi yang memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi. Tapis dapat dibedakan menurut pemakaiannya, seperti contohnya:

·       Tapis Jung Sarat: Dipakai oleh pengantin wanita pada upacara perkawinan adat. Dapat juga dipakai oleh kelompok isteri kerabat yang lebih tua yang menghadiri upacara mengambil gelar, serta muli cangget (gadis penari) pada upacara adat.

·       Tapis Bidak Cukkil: Model kain Tapis ini dipakai oleh laki-laki pada saat menghadiri upacara-upacara adat.

·       Tapis Silung: Dipakai oleh kelompok orang tua yang tergolong kerabat dekat pada upacara adat seperti mengawinkan anak, pengambilan gelar, khitanan dan lain-lain. Dapat juga dipakai pada saat pengarakan pengantin.

·       Tapis Tuho: Tapis ini dipakai oleh seorang isteri yang suaminya sedang mengambil gelar sutan. Dipakai juga oleh kelompok orang tua (mepahao) yang sedang mengambil gelar sutan serta oleh isteri sutan dalam menghadiri upacara pengambilan gelar kerabatnya yang dekat.

b.     Jangat 

            Jangat adalah alat untuk menghaluskan belahan-belahan rotan. Dibuat dari bahan besi lengkung tipis dan tajam yang ditancapkan di atas potongan batang kayu. Mata pisaunya dibuat sendiri atau dapat dibeli. Cara pemakaiannya adalah: belahan-belahan rotan yang panjang dimasukkan di antara kedua pisau besi itu, kemudian silih berganti ditarik.

c.     Teknologi Industri

Sebagai gerbang Sumatera, di Lampung sangat potensial berkembang berbagai jenis industri. Mulai dari industri kecil (kerajinan) hingga industri besar, terutama di bidang agrobisnis.Industri penambakan udang termasuk salah satu tambak yang terbesar di dunia setelah adanya penggabungan usaha antara Bratasena, Dipasena dan Wachyuni Mandira.Terdapat juga pabrik gula dengan produksi per tahun mencapai 600.000 ton oleh 2 pabrik yaitu Gunung Madu Plantation dan Sugar Group. di tahun 2007 kembali diresmikan pembangunan 1 pabrik gula lagi dibawah PT. Pemuka Sakti Manis Indah (PSMI) yang diproyeksikan akan mulai produksi pada tahun 2008.Industri agribisnis lainnya: ketela (ubi), kelapa sawit, kopi robusta, lada, coklat, kokoa, nata de coco dan lain-lain.

5.     Sistem ekonomi dan mata pencaharian hidup

Aktifitas produksi di Lampung yang utama adalah pertanian, termasuk perkebunan, kehutanan dan budidaya perikanan. Propinsi Lampung adalah penghasil utama kopi Robusta; dimana Lampung adalah salah satu yang terluas daerah perkebunan kopinya. Penghasil utama di bidang pertanian adalah padi, minyak kelapa, kopi, cengkeh, dan hasil pertanian lainnya, peternakan dan perikanan. Produksi kopi, minyak kelapa, dan makanan dalam kemasan, minyak, kayu lapis dan produksi kayu lainnya. Selain itu, Lampung juga penghasil buah-buahan tropis seperti: mangga, rambutan, durian, pisang, nanas, dan jeruk. Hasil panen utama yang lain adalah kelapa, karet mentah, minyak kelapa, coklat, lada dan sejenisnya.

Mata pencaharian masyarakat pedalaman (pepadun) berfokus pada pengembangan lahan bagi perkebunan besar seperti kelapa sawit, karet, padi, singkong, kakao, lada hitam, kopi, jagung, tebu dll. Dan di beberapa daerah pesisir (sai batin), kebanyakan nelayan. komoditas perikanan seperti tambak udang untuk tingkat nasional dan internasional.

6.     Sistem kepercayaan (religi)

Menurut salah satu teori asal-usul terbentuknya masyarakat Lampung, penduduk Lampung yang berasal dari Sekala Brak, di kaki Gunung Pesagi, Lampung Barat disebut Tumi (Buay Tumi) menganut kepercayaan dinamis, yang dipengaruhi ajaran Hindu Bairawa. Buai Tumi kemudian kemudian dapat dipengaruhi empat orang pembawa Islam berasal dari Pagaruyung, Sumatera Barat yang datang ke sana.

Masyarakat Lampung didominasi oleh agama Islam, namun terdapat juga agama Kristen, Katolik, Budha dan Hindu. Untuk Lampung, persatuan adat, kekerabatan, kerajaan, (ke)marga(an), dan semacamnya memang lebih kental dalam bentukan identitas kolektif. Aspek agama Islam, ternyata memberikan warna dan pencitraan tersendiri dalam kaidah kelembagaan maupun kebudayaan.

Faktor alamiah, yang membuat identifikasi awal misalnya pranata sosial masyarakat dengan mentalitas Islam, religiositas tradisi, kebajikan- kebajikan sosial, kecenderungan untuk hidup bersama, kehalusan budi, dan conformism merupakan ciri-ciri peradaban Islam yang melekat dalam adat Lampung. Aplikasi nilai-nilai agama juga ternyata berpengaruh menimbulkan transformasi manusia dan kebudayaan di Lampung.

Masyarakat Lampung mengenal berbagai tradisi atau upacara yang tidak trerlepas dari unsur keagamaan. Dalam masyarakat Lampung ada beberapa bagian siklus kehidupan seseorang yang dianggap penting sehingga perlu diadakan upacara-upacara adat yang bercampur dengan unsur agama Islam. Di antaranya adalah:

1)    Upacara kuruk liman, disaat kandungan umur 7 bulan.

2)    Upacara saleh darah yaitu upacara kelahiran.

3)    Upacara mahan manik yaitu upacara turun tanah, bayi berumur 40 hari.

4)    Upacara khitanan bila bayi berumur 5 tahun.

5)    Upacara serah sepi bila anak berumur 17 tahun dan sebagainya.

6)    Juga upacara perkawinan, kematian dan upacara adat lainnya seperti cokok pepadun yaitu pelantikan pengimbang baru sebagai kepala adat.

 

7.     Kesenian

Sastra lisan merupakan salah satu tradisi khas masyarakat Lampung. Ada berbagai jenis syair yang dikenal masyarakat Lampung, diantaranya pattun (pantun), pepatcur, pisaan, adi-adi, segata, sesikun, memmang, wawancan, hahiwang,dan wayak. Sifat-sifat orang Lampung juga diungkapkan dalam sebuah adi-adi (pantun):

Tandani hulun Lampung, wat piil-pusanggiri

Mulia hina sehitung, wat malu rega diri

Juluk-adok ram pegung, nemui-nyimah muwari

Nengah-nyampur mak ngungkung, sakai-sambaian gawi

Sifat yang tergambar dalam pantun di atas antara lain: piil-pusanggiri (malu melakukan pekerjaan hina menurut agama serta memiliki harga diri), juluk- adok (mempunyai kepribadian sesuai dengan gelar adat yang disandangnya), nemui-nyimah (saling mengunjungi untuk bersilaturahmi serta ramah menerima tamu), nengah-nyampur (aktif dalam pergaulan bermasyarakat dan tidak individualistis), dan sakai-sambaian (gotong- royong dan saling membantu dengan anggota masyarakat lainnya).

Seni sastra dapat dijumpai di berbagai aspek budaya masyarakat Lampung. Misalnya, di upacara perkawinan, seperti petikan syair di bawah ini:

Jak ipa niku kuya

Jak pedom lungkop-lungkop

Badan mak rasa buya

Ngena kebayan sikop

Artinya:

Dari mana kau kuya (nama binatang air)

Dari tidur berbalik-balik

Badan tiada letih

Dapat pengantin cantik

Petikan tulisan ini adalah wayak, sebuah puisi lama dari khasanah sastra lisan Lampung dan dikenal di Pesisir Lampung. Wayak Jak Ipa Niku Kuya ini seperti terpatri dalam ingatan seorang anak Lampung karena sering dilafalkan saat mengiringi prosesi perkawinan adat Lampung. Isinya, sebuah sindirin bagi seseorang (diibaratkan kuya) yang pemalas, tetapi (seperti mimpi) tiba-tiba mendapatkan gadis cantik. Sindir-menyindir dalam bahasa yang penuh petatah-petitih, tradisi ini masih kuat dalam masyarakat tradisional Lampung di umbul-umbul (sejenis desa).

Sastra lisan Lampung juga mengenal warahan, semacam kisah rakyat yang dituturkan seorang pewarah (semacam pengisah atau pendongeng) kepada seseorang atau khalayak. Dalam perkembangannya, warahan dapat berbentuk puisi, puisi lirik, atau prosa, tergantung dari kemampuan di pewarah dalam bertutur. Kalau kemudian ada kreativitas yang berupaya memasukkan warahan dalam seni olah peran, teater modern, itu karena memang dalam tradisi warahan, terdapat unsur-unsur olah vokal dan sesekali pewarah menirukan gerak tokoh yang ia ceritakan, meskipun dalam bentuk yang sangat sederhana.

C.    Wujud-wujud Kebudayaan di Daerah Lampung

1.     Siger Sebagai Simbol Propinsi Lampung

Benda ini sangat dikenal di Lampung. Karena dikenal dan termasuk dalam ciri khas budaya maka menjadi simbol khas daerah ini. Siger sendiri sangat identik dengan mahkota pengantin wanita Lampung yang berbentuk segitiga. Warnanya emas dan biasanya memiliki cabang atau lekuk berjumlah sembilan atau tujuh. Di masa kini siger bukan cuma sebagai mahkota pengantin. Benda ini juga bisa sebagai perhiasan yang dipakai sehari-hari. Ada yang bilang bentuknya mirip dengan Rumah Gadang kerajaan Pagaruyung.

Siger merupakan benda untuk kepentingan acara adat yang penting dalam ritual tradisional masyarakat Lampung. Mahkota ini menjadi simbol kehormatan dan status sosial seseorang dalam masyarakat Lampung. Secara umum, variasi bentuk siger berkembang seiring perkembangan tradisi di dalam masyarakat adat di Lampung. Bisa terlihat dari perbedaan bentuk siger dalam masyarakat adat Saibatin dan Pepadun.

Selain perbedaan dari kedua masyarakat adat tersebut, masuknya kebudayaan Hindu-Buddha dan Islam juga ikut memperkaya variasi bentuk siger yang ada di wilayah tertentu. Kini siger bukan hanya digunakan sebagai mahkota pada acara adat Suku Lampung, namun juga telah menjadi icon berupa hiasan dan lambang kebanggaan Provinsi Lampung. Anda bisa melihat contoah siger Lampung dalam ukuran besar di daerah Kabupaten Lampung Selatan, tepatnya di dekat pelabuhan Bakauheni. Menara raksasa ini diberi nama Menara Siger.

2.     Tradisi Suku Lampung

Upacara Pernikahan, dalam hal perkawinan ada 2 jenis Status Perkawinan, yaitu:

a.     Djujor adalah proses dimana Muli yang diambil oleh Mekhanai untuk menjadi istrinya, maka sang Mekhanai dan Keluarganya harus menyerahkan atau membayar Uang Adat kepada ahli si Muli berdasarkan permintaan dari ahli Keluarga si Muli. Sedangkan permintaaan si Muli kepada sang Mekhanai disebut Kiluan juga harus dibayar atau dipenuhi oleh sang Mekhanai Kiluan yang menjadi hak si Muli.

b.     Semanda Raja Raja Pada Semanda Raja Raja awalnya sang pria setelah pernikahan harus tinggal terlebih dahulu di tempat si wanita dengan tidak ditentukan masanya, artinya si suami boleh menunggu istrinya di rumah mertuanya sampai mati atau boleh juga untuk beberapa bulan atau beberapa tahun saja. Tetapi bisa juga bila keduanya sepakat dan menginginkan tinggal di tempat lain yang menurut perkiraan mereka akan mendapat kehidupan yang lebih baik maka keluarga kedua belah pihak tidak boleh menahannya.

 

3.     Rumah Adat Lampung Nuwou Sesat

Rumah adat ini berasal dari 2 kata, yaitu Nuwou yang berarti rumah dan sesat yang berarti adat. Nuwou Sesat sebetulnya memiliki fungsi utama sebagai balai atau tempat pertemuan bagi seluruh warga kampung (purwatin).

Struktur Rumah Adat Lampung Nuwou Sesat hampir sama dengan rumah adat suku asli Sumatera lainnya. Rumah adat Lampung ini berbentuk panggung dengan bahan utama berupa kayu atau papan. Struktur rumah panggung pada rumah Nuwou Sesat pada masa silam ditujukan sebagai upaya untuk menghindari serangan binatang buas bagi penghuninya. Selain itu, struktur panggung juga sengaja digunakan sebagai desain rumah tahan gempa. Sebagaimana diketahui, beberapa daerah di Lampung juga dikenal berada di lempeng perbatasan antar benua sehingga sering mengalami bencana gempa.

Adapun di bagian dalamnya, rumah Nuwou Sesat terdiri atas beberapa ruangan dengan fungsinya masing-masing. Beberapa ruangan tersebut antara lain Pusiban (ruang tempat musyawarah), Tetabuhan (tempat penyimpanan alat musik tradisional dan pakaian adat Lampung), Gajah Merem (tempat Penyimbang beristirahat), dan Kebik tengah (tempat tidur untuk anak penyimbang).

Dengan struktur rumah panggung, dibutuhkan sebuah tangga sebagai akses keluar masuk rumah. Dalam adat Lampung, tangga tersebut bernama Ijan Geladak. Tangga ini terletak di bagian depan rumah sehingga sering kali dihiasi dengan ukiran-ukiran etnik Lampung untuk mempercantik tampak depannya. Bagian depan rumah adat Lampung umumnya juga akan dilengkapi dengan serambi kecil yang bernama anjungan. Anjungan berfungsi sebagai tempat pertemuan kecil atau sebagai tempat bersenda gurau. Salah satu yang menjadi keunikan dari rumah adat Lampung adalah beragam ornamen yang sering dipajang di setiap bilik rumahnya. Ornamen- ornamen ini berisi petuah yang diambil dari kitab kuno peninggalan leluhur Lampung yang bernama kitab Kuntara Raja Niti. Kitab ini mengandung beberapa prinsip yang wajib dianut oleh setiap keturunan suku Lampung. Beberapa prinsip dari kitab tersebut antara lain:

       Pill-Pusanggiri. Prinsip adanya rasa malu ketika melakukan sebuah kesalahan atau perbuatan yang buruk, baik menurut norma agama maupun norma adat.

       Juluk-Adek. Prinsip bagi mereka yang telah memiliki gelar adat agar dapat bersikap dan berkeperibadian yang bisa menjadi contoh.

       Nemui-Nyimah. Prinsip untuk selalu menjaga tali silaturahmi antar sanak keluarga dan selalu bersikap ramah pada tamu.

       Nengah-Nyampur. Prinsip untuk selalu menjaga hubungan baik dalam kehidupan sosial dan bermasyarakat.

       Sakai-Sambaian. Prinsip saling tolong menolong dan bergotong royong dalam setiap pekerjaan.

       Sang Bumi Ruwa Jurai. Prinsip untuk tetap bersatu meski saling berbeda. Prinsip ini menyatukan suku Lampung adat Pepadun dan adat Sebatin sehingga keduanya saling menghormati. Penerimaan yang baik dari masyarakat Lampung terhadap para pendatang juga didasari atas prinsip ini.





 by : Al Martapury

Sarekat Islam : Sejarah, Latar Belakang, Tokoh dan Kemuduran Organisasi Sarekat Islam (SI)

By david al martapury Sarekat Islam (SI)  – Ada banyak organisasi pergerakan nasional, salah satunya adalah Sarekat Islam. Syarikat Islam (S...