Tampilkan postingan dengan label adat budaya lampung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label adat budaya lampung. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 27 Mei 2023

Adat Budaya Lampung

 

A.    Asal Usul Masyarakat Lampung Pepadun

Pepadun adalah sebuah singgasana yang hanya dapat digunakanatau diduduki pada saat penobatan raja-raja adat dari Paksi Pak Skala Brak serta keturunannya.

Menurut kisahnya, dataran Skala Brak pada awalnya dihuni oleh suku Tumi yang kala itu masih menganut faham animisme Suku bangsa ini sangat mengagungkan sebuah pohon yang bernama Lemasa Kepampang atau Pohon Nangka bercabang dua, yaitu cabang yang satu berupa nangka dan yang satunya lagi sejenis kayu yang bergetah, sebukau.

Keistimewaan dari pohon Lemasa Kepampang ini adalah apabila terkena getah dari cabang kayu sebukau akan menimbulkan penyakit koreng atau penyakit kulit lainnya. Untuk mengobatinya atau menyembuhkannya harus diobati getah dari cabang yang satunya. Karena keistimewaan ini oleh suku tumi pohon Lemasa Kepampang tersebut dikeramatkan.

Ketika agama Islam disebarkan oleh 4 orang putra raja Pagaruyung di Skala Brak, yaitu Umpu Berjalan di Way, Umpu Belunguh, Umpu Nyerupa, dan Umpu Peranong, dibantu oleh seorang penduduk yang bernama Si Bulan, mereka membentuk sebuah persatuan/perserikatan yang bernama Paksi Pak, yang berarti 4 bersaudara / serangkai.

Setelah perserikatan itu cukup kuat, mereka dapat menaklukkan suku tumi yang kemudian menganut faham Islam. Sedangkan penduduk yang belum menganut faham Islam, menyingkir kepesisir Krui kemudian menyebar kepulau Jawa dan Palembang. Daerah Skala Brak yang telah dikuasai ke-4 Umpu tersebut kemudian diperintah oleh mereka dengan menggunakan nama Paksi Pak Skala Brak yang merupakan nenek moyang orang Lampung. Oleh ke-4 Umpu tersebut kerajaan Skala Brak dibagi menj Marga atau kebuayan, yaitu:

1.     Umpu Bejalan di Way, memerintah daerah Kembahang dan Bukit dengan ibu negeri Puncak yang kemudian disebut Paksi

2.     Umpu Belunguh, memerintah daerah Belalau dengan ibun Kenali, yang kemudian disebut Paksi Buay Belunguh.

3.     Umpu Nyerupa, memerintah daerah Sukau dengan ibu negeri Tapa Bejalan di Way.Siring, yang kemudian disebut Paksi Buay Nyerupa.

4. Umpu Peranong, memerintah Daerah Batu Brak dengan ibune Hanibung, yang kemudian disebut paksi Buay Peranong Pernong Sedangkan Si Bulan memperoleh bagian daerah Cenggiring ya kemudian bergabung dengan Paksi Buay Pernong/ Peranong karena wilayahnya lebih dekatSuku tumi yang berpindah kedaerah pesisir Krui menempatkan marga-marga Punggawa Lima, yaitu Marga Pidada, Marga Bandar, MarLaai dan Marga Way Sindi.

Kelima Marga tersebut kemudian ditaklukkan oleh Lemia Ralang Pantang yang datang dari daerah Danau Ranau yang dibantu oleh orang punggawa dari Paksi Pak Skala Brak. Dari ke-5 punggawa inilah daerah tersebut disebut dengan Punggawa Lima, karena mereka menetap disana. Agar penyebaran syiar agama Islam tidak mendapatkan hambatan maka Pohon Lemasa Kepampang tersebut ditebang dan dibuat menjadi pepadun. Sejak saat itu paham animisme mulai terkiskis dari tanah daerah Skala Brak.

Pada sekitar awal Abad ke-9 M para raja-raja di Skala Brak menciptakan aksara (had / huruf ) Lampung sebagai alat komunikasi tertulis.

Pepadun mempunyai dua makna, yaitu:

4.     Bermakna memadukan pengesahan atau pengaduan mentasbihkan bahwa orang yang duduk diatasnya adalah raja.

5.     Bermakna tempat mengadukan segala hal ihwal dan mengambil

Keputusan bagi mereka yang pernah mendudukinya. Fungsi pepadun hanya diperuntukkan bagi raja yang memerintah di Skala Brak. Atas mufakat ke-4 paksi maka pepadun tersebut dipercayakan kepada seseorang yang bernama Benyata, untuk disimpan serta ditunjuk sebagai bendahara Pekon Luas, Paksi Pak Buay Belunguh dan kepadanya diberikan gelar Raja secara turun temurun.

Apabila salah seorang dari keturunan ke-4 Umpu tersebutmemerlukan pepadun untuk menobatkan salah seorang dari warganya/ keturunannya, maka pepadun tersebut dapat dipinjam dan setelah digunakan harus dikembalikan.

Adanya bendahara yang dipercayakan pada Benyata,semata-mata untuk menghindari perebutan/perselisihan diantara keturunan Paksi Pak Skala Brak dikemudian hari. Pada tahun 1939 pernah terjadi perselisihan diantara keturunan Benyata memperebutkan keturunan yang tertua atau yang berhak menyimpan pepadun.Atas keputusan rapat adat dengan persetujuan Paksi Pak Skala Brak dari keresidenan, pepadun tersebut disimpan dirumah keturunan yang lurus dari Umpu Belunguh hingga sekarang

 

Asal usul Adat Saibatin/ Pesisir

Konsep saibatin Menurut penuturan puniakan dalom salman parsi sultan piekulun Djayadingingrat khaja adat paksi buai nyerupa bahwa kata saibatin, berasal dari kata sai ( artinya satu ) batin ( jiwa atau nurani ) yang disini dimaksud memiliki satu junjungan, hal ini sesuai dengan tatanan sosial dalam masyarakat adat saibatin, hanya ada satu khaja adat dalam setiap generasi kepemimpinan. Budaya Lampung saibatin cendrung bersifat Aristokratis karena kedudukan adatnya hanya dapat diwariskan melalui garis keturunan lurus saja.

Pengertian Saibatain dalam Masyarakat Lampung Pengertian masyarakat Adat Lampung Saibatin adalah kelompok yang menjaga kemurnian daerah dalam mendudukkan seseorang pada jabatan adat yang oleh sekelompok masayarakat Lampung yang disebut Kepunyimbangan.

Saibatin sesungguhnya diartikan status yang ada dalam adat untuk membina kerukunan dalam bermasyarakat yang mengikat hubungan persaudaraan sehingga berkembang menjadi suatu kedudukan dengan adanya penyimbang Saibatin. Penyimbang Saibatin adalah istilah bagi pimpinan adat di daerah Lampung Pesisir umumnya dan daerah Marga kelumbayan khususnya.

Secara harfiah penyimbang dapat diartikan seseorang yang berhak mewarisi masalah adat, berarti yang berhak menduduki jabatan sebagai kepala adat atau pimpinan adat yang kepemimpinannya diwarisi secara turun temurun sejak dahulu pada anak-anak laki-laki yang tertua.

Sedangkan penyimbang bila dihubungkan dengan masalah keturunan umumnya berarti anak penyimbang nyawa (anak laki- laki tertua) yang berhak mewarisi semua harta kedudukan pangkat di lingkungan kekerabatan adat dari pihak ayahnya 4 Sedangkan pengertian Sai: satu, Batin: pemimpin dalam adat .

 Jadi pengertian Saibatin adalah sekumpulan masyarakat adat yang berpatokan pada satu pemimpin dalam satu adat.“SAIBATIN” ditandai oleh kesempatan menduduki jabatan sebagai kepala adat, terbatas sampai tingkat kepala adat kampung (pekon) dengan sarat telah ada wilayahnya dan ada pengikutnya (penduduk). Kepala adat tingkat marga (Marga Geneologis) secara turun temurun (tidak pernah bertambah)

Struktur Masyarakat Adat Lampung

Lampung Secara Umum Terbagi Menjadi Dua Kelompok Adat Besar Yakni Lampung Beradat Pepadun dan Lampung Beradat Pesisir. Perbedaan Kedua Kelompok Adat Tersebut Seperti Yang Kita Ketahui Disemua Literatur Yang Ada, Kelompok Masyarakat Lampung Yang Beradat Pepadun Dikenal Lebih Demokratis, Dikatakan Demokratis Karena Dalam Proses Pelaksanaan Adat Khususnya Gelar Suttan (Penyimbang) Dapat Dilakukan Oleh Siapapun Sesuai Dengan Ketentuan Adat Pepadun Yang Berlaku, Bahkan Suku Lain (Jawa, Sunda dll) Pun Dapat Melakukannya Dengan Syarat Diangkat Terlebih Dahulu Melalui Adat Muwaghi Dengan Ulun Lampung Itu Sendiri.

Pepadun

Lampung Pepadun Didalam Masyarakatnya Terbagi Lagi Kedalam Lima Kelompok Masyarakat Adat. Kelima Kelompok Masyarakat Adat Tersebut Diantaranya Ialah Kelompok Masyarakat Abung Siwo Migo, Kelompok Masyarakat Megow Pak, Kelompok Masyarakat Pubian Telu Suku, Kelompok Masyarakat Sungkai Bunga Mayang dan Kelompok Masyarakat Way Kanan Kebuayan Lima.

·       Suku Pubian

Termasuk dalam masyarakat adat Lampung Pepadun, yang merupakan satu dari dua adat terbesar yang ada di Lampung. Masyarakat Pepadun menganut sistem kekerabatan patrilineal.Asal mulanya suku ini disebut Pubian disebabkan nenek moyang suku Pubian yang masuk melewati pinggiran Way Pengubuan dan hulu Way Pubian.Suku ini paling banyak ditemukan di wilayah pedalaman dan dataran tinggi. Walaupun termasuk dalam masyarakat adat Pepadun, tetapi dialek bahasa yang digunakan oleh Suku Pubian adalah Bahasa Lampung dengan dialek “A”, yang biasa digunakan masyarakat adat Lampuung Saibatin atau Pesisir.Pelafalan yang diucapkan adalah pelafalan dengan irama atau intonasi yang mengayun dan ditekan. Pada adat Pepadun, siapa pun bisa mengambil gelar asalkan mempunyai kekayaan yang cukup. Mereka yang ingin mengambil gelar harus menyelenggarakan upacara adat Cakak Pepadun. Gelar atau status sosial yang dapat diperoleh melalui Cakak Pepadun diantaranya gelar Suttan, Raja, Pangeran, dan Dalom.Pubian merupakan satu dari sembilan marga yang ada di Lampung tengah yang masih tinggal di sana sampai hari ini.

·       Abung Siwo Migo

Abung Siwo Migo adalah Kelompok Masyarakat Adat Terbesar di Lampung. Abung Adalah Sebuah Nama Kelompok Masyarakat, Sedangkan Siwo Berarti Sembilan dan Migo Memiliki Arti Marga. Dikatakan Terbesar Disini Dikarenakan Kelompok Masyarakat Tersebut Memiliki Masyarakat, Wilayah, Yang Besar Pula. Abung Siwo Migo Sendiri Memiliki Sembilan Kelompok Masyarakat Adat Yang Tergolong Kedalam Buay (Marga). Kesembilan Marga Tersebut Ialah Marga Nunyai, Marga Unyi, Marga Subing, Marga Nuban, Marga Beliuk, Marga Nyerupo, Marga Selagai, Marga Kunang dan Marga Anek Tuho. Kesembilan Marga Yang Berhimpun Kedalam Abung Siwo Migo Tersebut Adalah Satu Keluarga Besar Baik Sekandung Maupun Saudara Angkat (Muwaghi).

Dimasing-masing Kesembilan Marga Dalam Kelompok Abung Siwo Migo Tersebut Memiliki Pesan Yang Disetiap Gelaran Adat Begawi Dicanangkan. Pesan Tersebut Dikenal Dengan Istilah Panggeh.

·       Suku Tulang Bawang (Tulangbawang Mego Pak),

Suku Tulang Bawang (Tulangbawang Mego Pak),adalah salah satu organisasi komunitas adat yang terdapat di Provinsi Lampung. Suku Tulangbawang ini tersebar di empat wilayah adat, yaitu Menggala, Mesuji, Panaragan dan Wiralaga. Suku Tulang Bawang ini berada di bawah hukum adat Pepadun. Pepadun adalah salah satu dari dua Suku Bangsa Lampung adat yang terdapat di Lampung. Menurut cerita asal usul suku Tulang Bawang, bahwa para leluhur suku Tulang Bawang berasal dari Suku Bangsa Lampung memasuki wilayah mereka sekarang ini melalui pinggiran Way Tulangbawang. Mego Pak. Maksud dari Mego Pak adalah suku Tulang Bawang ini memiliki empat mego (marga).

marga:

Puyang Umpu

Puyang Bulan

Puyang Aji

Puyang Tegamoan

Masyarakat Tulang Bawang, secara umum masih percaya dengan kata-kata orang tua, baik itu berupa pantun, dongeng, legenda mitos dan yang lainnya. Mayoritas masyarakat suku Tulang Bawang adalah penganut agama Islam, yang telah lama berkembang di wilayah ini. Beberapa tradisi adat budaya suku Tulang Bawang terlihat banyak mengandung unsur Islami. Mereka adalah penganut agama Islam yang taat, tetapi mereka juga terbuka terhadap golongan agama lain, seperti dari golongan agama Kristen, Hindu, dan Buddha, sehingga kerukunan agama di wilayah ini tetap terpelihara dengan baik. Kehidupan masyarakat Tulang Bawang pada umumnya berprofesi sebagai petani, pada tanaman padi, sayur-sayuran dan tanaman keras seperti kopi. Selain itu, banyak juga yang bekerja pada sektor pemerintahan, menjadi pedagang, guru dan profesi lainnya. Di halaman rumah beberapa keluarga memelihara ternak seperti sapi, kambing, bebek dan ayam untuk menambah penghasilan hidup.

·       Sungkai Bunga Mayang

Bisa dikategorikan sebagai marga, karena masih dalam satu kesatuan subjurai etnis Pepadun Lampung. Sungkai juga merupakan  salah satu komunitas masyarakat adat yang berada di bawah tradisi hukum adat Pepadun Lampung.

Marga Sungkai bermukim di wilayah Lampung, tepatnya di Kabupaten Lampung Utara. Walaupun pada dasarnya banyak pula masyarakatnya telah menyebar ke seluruh penjuru Lampung maupun di luar Lampung. Dikarenakan faktor ekonomi, pekerjaan, dan masyarakatnya yang suka berhijrah mencari penghidupan baru.

Sungkai secara harafiah berarti pohon. Sebab, pada masa lalu terbentuknya marga Sungkai pada daerah yang dinamakan Way Sungkai. Selain itu, memang di sana pula terdapat pepohonan yang masyarakat setempat menamakannya Sungkai. Dengan kata lain, harapan pada masyarakat Marga Sungkai menggunakan nama sungkai yang artinya pohon karena anggapan mereka mengambil filosofi pohon tersebut. Bahwa, filosofi pohon adalah sumber kehidupan manusia.

Diriwayatkan asal usul Marga Sungkai, menurut cerita rakyat Sungkai, bahwa dahulu berasal dari daerah Komering. Dahulu banyak orang komering yang bermigrasi keluar dari daerah asal mereka di sepanjang aliran Way Komering, untuk mencari kehidupan baru pindah ke wilayah lain. Pada perjalanan migrasi, mereka membuka pemukiman baru (umbul) maupun kampung (tiyuh). Perpindahan kali pertama oleh orang Komering marga Bunga Mayang yang kemudian menjadi suku Sungkai atau disebut juga sebagai suku Lampung Sungkai Bunga Mayang.

Suntan Baginda Dulu (Lampung Ragom, 1997), mengatakan “Kelompok Lampung Sungkai asal nenek moyang mereka adalah orang Komering pada tahun 1800 Masehi, pindah dari Komering Bunga Mayang menyusur Way Sungkai lalu minta bagian tanah permukiman kepada tetua Abung Buway Nunyai pada tahun 1818 s/d. 1834 Masehi. Kenyataan kemudian hari mereka maju. Mampu begawi menyembelih kerbau 64 ekor dan dibagi ke seluruh Kebuayan Abung”.

Oleh masyarakat Abung, suku Sungkai dinyatakan berada di bawah adat Lampung Pepadun dan tanah yang sudah diserahkan Buay Nunyai mutlak menjadi milik mereka. Kemungkinan daerah Sungkai yang pertama kali adalah Negara Tulang Bawang, membawa nama kampung/marga Negeri Tulang Bawang asal mereka di Komering.

Dari sini kemudian menyebar ke Sungkai Utara, Sungkai Selatan, Sungkai Jaya dan sebagainya. Di daerah Sungkai Utara, banyak penduduk yang berasal dari Komering Kotanegara, mereka adalah generasi keempat sampai kelima yang sudah menetap di sana.

Marga Sungkai terdiri dari 7 Kebuwayan (keturunan ) besar, yaitu:
1. Buway Indor gajah (Segajah)
2. Buway Selembasi
3. Buway Perja (serja) yang ketiganya anak Putri Silimayang
4. Buay Harayap
5. Buway Liwa
6. Buway Dibintang
7. Buway Semenguk

·       Suku Way Kanan,

 suatu komunitas masyarakat adat yang berada di kabupaten Way Kanan provinsi Lampung. Suku Waykanan ini disebut juga sebagai Buay Lima, karena kelompok masyarakat ini terdiri dari 5 Kebuaian.

Suku Waykanan ini berada di bawah adat Lampung Pepadun. Adat Pepadun adalah salah satu dari 2 adat yang terdapat di provinsi Lampung.

Menurut cerita rakyat yang terdapat pada masyarakat suku Lampung, bahwa Suku Waykanan ini, adalah keturunan nenek moyang suku Lampung yang berasal dari Skalabrak. Skalabrak sendiri dipercaya adalah tempat asal usul etnis Lampung, yang tersebar ke berbagai wilayah di Sumatra Selatan, Lampung hingga Bengkulu. Salah satu keturunan yang berasal dari Skalabrak adalah suku Waykanan, yang pada perjalanan migrasinya melalui pinggiran Way Kanan.

Masyarakat suku Waykanan secara mayoritas adalah pemeluk agama Islam yang taat. Beberapa adat-istiadat terlihat banyak mengandung unsur Islami. Saat ini di wilayah pemukiman suku Waykanan ini, telah dipenuhi oleh para pendatang transmigran, terutama yang berasal dari pulau Jawa. Selain itu juga terdapat pendatang lain yang berasal dari berbagai daerah di Sumatra, seperti Minang, Palembang, Batak dan lain-lain.

Saat ini agak susah mendeteksi suku Waykanan ini di wilayah mereka sendiri, karena banyaknya jumlah pendatang transmigran di wilayah ini, selain itu juga banyak terjadi perkawinan campur antara masyarakat Waykanan dengan masyarakat pendatang. Sehingga sekilas terlihat masyarakat suku Waykanan sendiri hidup dalam budaya masyarakat pendatang.

Masyarakat suku Waykanan pada umumnya hidup pada bidang pertanian, seperti pertanian padi-sawah, maupun ladang, berbagai tanaman sayur-sayuran dan buah-buahan juga menjadi tanaman utama mereka. Selain itu masyarakat suku Waykanan juga banyak yang telah bekerja di sektor pemerintahan, dan juga sebagai pedagang, guru dan lain-lain.

 

Saibatin

Wilayah adat Lampung Saibatin sendiri terbagi Enom Belas Marga Krui (Pesisir Barat), Paksi Pak Sekala Brak (Lampung Barat), Bandar Enom Semaka (Tanggamus), Bandar Lima Way Lima (Pesawaran), Marga Lima Way Handak (Lampung Selatan), Melinting Tiyuh Pitu (Lampung Timur).

·       Kepaksian Sekala Brak

Suttan Junjungan Sakti memberikan informasi mengenai arti dari kata Sekala Brak yaitu berarti buah puar lakok (buah yang rasanya asam). Kemudian Dang Ike Edwin menjelaskan bagaimana manusia ada untuk pertama kalinya di tanah Lampung. Diawali dengan Suku Batu pada 4500 tahun yang lalu di Pekon Tebu, Lampung Barat. Setelah itu di abad pertama masehi ada satu suku yang disebut Suku Tumi yang tinggal di dalam gua, kedua suku tersebut masih menganut paham animisme. Pada saat itu ada sebatang pohon yang bernama Belasa Kepampang (pohon nangka bercabang dua) yang disembah oleh Suku Tumi pada saat itu.

·       Berada beberapa teori tentang etimologi Sekala Brak (Diandra Natakembahang:2005), yaitu:Sakala Bhra yang faedahnya titisan dewa (terkait dengan Kerajaan Sekala Brak Kuno)

·       Segara Brak yang faedahnya genangan cairan yang lapang (diketahui sbg Danau Ranau)

·       Sekala Brak yang faedahnya tumbuhan sekala dalam jumlah yang banyak dan lapang (tumbuhan ini banyak terdapat di Pesagi dan dataran tingginya)

Suttan Junjungan Sakti menjelaskan bahwa potongan dari pohon Belasa Kepampang yang disembah oleh Suku Tumi pada zaman itu, masih ada dan tersimpan di Gedung Dalom Kepaksian Belunguh di Kenali, Lampung Barat. Walaupun bentuknya sudah tidak utuh lagi, namun tetap difungsikan seperti pada fungsinya yaitu sebagai pepadun (singgasana raja). Potongan kayu Belasa Kepampang masih tetap digunakan untuk perhelatan acara pernikahan garis keturunan lurus dari keempat putra Umpu Ngegalang Paksi.

Kemudian di abad ke 3 - 4 suku Sekala Brak datang dari daratan India Selatan yang sudah mengenal budaya, mengenal peradaban, adat istiadat, dan disebut sebagai Kerajaan Sekala Brak. Sekitar ±1700 tahun yang lalu, Kerajaan Sekala Brak sudah ada di tanah Lampung dan bertempat di Kabupaten Lampung Barat. Raja pertama Kerajaan Sekala Brak kuno di tanah Lampung bernama Raja Laula, ia hidup di sekitar abad ke-3 masehi. Kemudian raja terakhir Sekala Brak kuno bernama Raja Skarhemong yang hidup di abad ke-12 terakhir. Agama Islam datang di abad ke-13 dari Arab dan Gujarat India, kemudian Negeri Pasai Aceh dan berjalan terus sampai ke Lampung.

Umpu Ngegalang Paksi merupakan orang pertama yang memeluk Agama Islam di tanah Lampung. Beliau merupakan Raja pertama Kerajaan Paksi Pak Sekala Brak. Ada perbedaan antara Kerajaan Sekala Brak dengan Kerajaan Paksi Pak Sekala Brak, yaitu Kerajaan Sekala Brak menganut agama Hindu Birawa dan hidup di abad ke-2 sampai abad ke-12, sedangkan Kerajaan Paksi Pak Sekala Brak menganut Agama Islam dan hidup dari abad ke-13 sampai sekarang. Umpu Ngegalang Paksi memiliki empat orang putra, keempat putra tersebut bernama Umpu Belunguh, Umpu Pernong, Umpu Nyerupa, dan Umpu Bejalan di Way, serta seorang putri bernama Umpu Ratu Bulan. Mereka merupakan orang-orang pertama yang memeluk Agama Islam di bumi.

Sekala Brak dan menyebarkannya ke seluruh dataran Lampung. Sampai saat ini Agama Islam ada di tanah Lampung yang dibawa oleh Kerajaan Paksi Pak Sekala Brak Suttan Junjungan Sakti menjelaskan bahwa saat di zaman Suku Tumi, Raja Skarhemong menolak untuk menganut Agama Islam, namun adik perempuannya Putri Sindi mau masuk dan menganut Agama Islam. Lalu Putri Sindi dinikahkan oleh Umpu Belunguh dan saat ini Suttan Junjungan Sakti merupakan keturunan garis lurus dari Umpu Belunguh ke-27.

Saat ini Kerajaan Paksi Pak Sekala Brak ada 4, yaitu Kepaksian Belunguh yang dipimpin oleh Suttan Junjungan Sakti yang ke-27, kedua yaitu Kepaksian Nyerupa yang dipimpin oleh Suttan Pikulun Djayadiningrat ke-25, ketiga yaitu Kepaksian Pernong yang dipimpin oleh Sultan Edwardsyah Pernong yang ke23, yang keempat yaitu Kepaksian Bejalan di Way yang dipimpin oleh Suttan Pangeran Jaya Kesuma yang ke-22.

Keempat paksi tersebut memiliki wilayah kekuasan, rakyat, serta kebudayaannya masing-masing. Wilayah Kepaksian belunguh berada di Kenali, wilayah Kepaksian Nyerupa berada di Tapak Siring, wilayah Kepaksian Pernong berada di Hanibung, dan wilayah Kepaksian Bejalan di Way berada di Puncak. Keempat kepaksian tersebut hingga saat ini tetap bersaudara, berkeluarga hingga saat ini.

Berdirinya Kepaksian Sekala Brak

Diriwayatkan di dalam Tambo bahwa para Pendiri Paksi Pak Sekala Brak merupakan bersumber dari Pagaruyung. Sebagaimana MataramKutai dan Pagaruyung, Sekala Brak mengalami dua era yaitu era Keratuan Hindu Budha dan era Kesultanan Islam. Para Pendiri Paksi Pak Sekala Brak masing masing adalah:

·       Umpu Bejalan Di Way Ia merupakan Pendiri Paksi Buay Bejalan Diway memerintah dan dimakamkan di Puncak, Sukarami Liwa

·       Umpu Belunguh Ia merupakan Pendiri Paksi Buay Belunguh memerintah di Barnasi, Belalau

·       Umpu Nyerupa. Ia merupakan Pendiri Paksi Buay Nyerupa memerintah di Tampak Siring, Sukau

·       Umpu Pernong. Ia merupakan Pendiri Paksi Buay Pernong memerintah di Henibung, Batu Brak

Lambang Paksi Buay Bejalan Diway

Umpu bersumber dari kata Ampu seperti yang tertulis pada batu tulis di Pagaruyung yang bertarikh 1358 A.D. Ampu Tuan merupakan sebutan Untuk anak Raja Raja Pagaruyung Minangkabau. Setibanya di Sekala Brak keempat Umpu bertemu dengan seorang Muli yang ikut menyertai para Umpu ia merupakan Si Bulan. Di Sekala Brak keempat Umpu tersebut mendirikan suatu perserikatan yang dinamai Paksi Pak yang faedahnya Empat Serangkai atau Empat Sepakat.

Kedatangan para Umpu Pendiri Paksi ini tidaklah bersamaan, sesuai penelitian terakhir dikenal bahwa menyebarnya Agama Islam dan pembaharuan Hukum budaya diterapkan setelah kedatangan Umpu Belunguh ke Sekala Brak yang memerangi Sekerumong dan akhir-akhirnya dimenangkan oleh perserikatan Paksi Pak sehingga dimulailah era Kesultanan Islam di Sekala Brak. Sedangkan penduduk yang belum memeluk agama Islam melarikan diri ke Pesisir Krui dan terus menyeberang ke pulau Jawa dan beberapa lagi ke daerah Palembang. Raja terakhir dari Buway Tumi Sekala Brak merupakan Kekuk Suik sbg anak laki-laki dari Ratu Sekeghumong dengan wilayah kekuasaannya yang terakhir di Pesisir Selatan Krui -Tanjung Cina.

Dataran Sekala Brak akhir-akhirnya diduduki oleh keempat Paksi yang didampingi Si Bulan, Karenanya Sekala Brak kesudahan diperintah oleh keempat Paksi dengan memakai nama Paksi Pak Sekala Brak. Inilah cikal bakal Kepaksian Sekala Brak yang merupakan puyang bangsa Lampung. Kepaksian Sekala Brak mereka untuk dijadikan empat Marga atau Kebuwayan yaitu:

Umpu Bejalan Di Way memerintah daerah Kembahang dan Belakang Bukit dengan Ibu Negeri Puncak, daerah ini dikata dengan Paksi Buay Bejalan Di Way.

·       Umpu Belunguh memerintah daerah Belalau dengan Ibu Negerinya Kenali, daerah ini dikata dengan Paksi Buay Belunguh.

·       Umpu Nyerupa memerintah daerah Sukau dengan Ibu Negeri Tapak Siring, daerah ini dikata dengan Paksi Buay Nyerupa.

·       Umpu Pernong memerintah daerah Batu Brak dengan Ibu Negeri Hanibung, daerah ini dikata dengan Paksi Buay Pernong

Sedangkan Si Bulan mendapatkan daerah Cenggiring namun kesudahan Si Bulan beranjak dari Sekala Brak menuju ke arah matahari hidup. Dan daerah pembagiannya digabungkan ke daerah Paksi Buay Pernong karena letaknya yang berdekatan.

Bendera Lambang Paksi Buay Belunguh, Pakhu Sukha (pakis hutan)

Suku bangsa Tumi yang lari kedaerah Pesisir Krui menempati marga marga Punggawa Lima yaitu Marga Pidada, Marga Bandar, Marga Laai dan Marga Way Sindi namun kesudahan bisa ditaklukkan oleh Lemia Ralang Pantang yang datang dari daerah Danau Ranau dengan pertolongan lima orang punggawa dari Paksi Pak Sekala Brak. Dari kelima orang punggawa inilah nama daerah ini dikata dengan Punggawa Lima karena kelima punggawa ini hidup menetap pada daerah yang telah ditaklukkannya.

Supaya syiar agama Islam tidak mendapatkan hambatan karenanya pohon Belasa Kepampang itu akhir-akhirnya ditebang untuk kesudahan dibuat PEPADUN. Pepadun merupakan singgasana yang hanya bisa digunakan atau direbut pada masa penobatan SAIBATIN Raja Raja dari Paksi Pak Sekala Brak serta keturunan keturunannya. Dengan ditebangnya pohon Belasa Kepampang ini merupakan pertanda jatuhnya kekuasaan suku bangsa Tumi sekaligus hilangnya faham animisme di kerajaan Sekala Brak. Sekitar awal zaman ke 9 Masehi para Saibatin di Sekala Brak menciptakan aksara dan angka tersendiri sbg Aksara Lampung yang dikenal dengan Had Lampung.

Berada dua makna di dalam mengartikan kata Pepadun, yaitu:

·       Dimaknakan sbg PAPADUN yang maksudnya untuk memadukan pengesahan atau pengakuan untuk mentahbiskan bahwa yang duduk di atasnya merupakan Raja.

·       Dimaknakan sbg PAADUAN yang faedahnya tempat mengadukan suatu hal ihwal. Karenanya jelaslah bahwa mereka yang duduk di atasnya merupakan tempat orang mengadukan suatu hal atau yang berhak memberikan keputusan.

Ini jelas bahwa fungsi Pepadun hanya diperuntukkan untuk Raja Raja yang memerintah di Sekala Brak. Atas mufakat dari keempat Paksi karenanya Pepadun tersebut dipercayakan kepada seseorang yang bernama Benyata untuk menyimpan, serta ditunjuk sbg bendahara Pekon Luas, Paksi Buay Belunguh dan kepadanya diberikan gelar Raja secara turun temurun.

Manakala salah seorang dari keempat Umpu dan keturunannya membutuhkan Pepadun tersebut untuk menobatkan salah satu keturunannya karenanya Pepadun itu bisa diambil atau dipinjam yang setelah digunakan mesti dikembalikan. Beradanya bendahara yang dipercayakan kepada Benyata semata mata untuk menghindari perebutan atau perselisihan di selang keturunan keturunan Paksi Pak Sekala Brak dikemudian hari.

Pada Tahun 1939 terjadi perselisihan di selang keturunan Benyata memperebutkan keturunan yang tertua atau yang berhak menyimpan Pepadun. Karenanya atas keputusan kerapatan hukum budaya dengan persetujuan Paksi Pak Sekala Brak dan Keresidenan, Pepadun tersebut disimpan dirumah keturunan yang lurus dari Umpu Belunguh hingga sekarang.

·       Bandar Lima Way Lima atau Marga Way Lima

            Untuk wilayah adat Bandar Lima Way Lima atau Marga Way Lima adalah salah satu Marga di Lampung yang beradat Saibatin dan termasuk Subsuku Lampung Peminggir Pemanggilan (Teluk Semaka Timur).

Generasi sekarang mungkin hanya tahu Way Lima adalah Kecamatan di Kabupaten Pesawaran ( sebelumnya termasuk dalam wilayah Kabupaten Lampung Selatan). Lampung Selatan kini telah mekar menjadi 4 Kabupaten Lampung Selatan sebagai Kabupaten Induk, Kabupaten Tanggamus,Kabupaten Pesawaran dan Kabupaten Pringsewu. 

Negeri Way Lima yang terbentang antara Gunung Terang sampai Pampangan / Way Layap masuk dalam wilayah 3 Kabupaten yaitu Kecamatan Bulok masuk wilayah Kabupaten Tanggamus, Kecamatan Pardasuka masuk wilayah Kabupaten Pringsewu  dan Kecamatan Kedondong serta kecamatan Way Lima masuk wilayah Kabupaten Pesawaran.

Penduduk Way Lima yang tersebar di 4 Kecamatan tersebut berasala dari Putih, Limau,dan sekitarnya disepanjang Teluk Semangk.Dengan menyusuri aliran sungai kelompok tersebut mencari daerah baru dan selanjutnya menetap di suatu tempat dengan bercocok tanam dan bertani guna menyambung hidupnya.

Nama Way Lima ditetapkan oleh pemerintahan kolonial Belanda saat membentuk Kemargaan di wilayah ini sekitar tahun 1930 merujuk dari nama lima Way (sungai) yang tidak surut walaupun kemarau panjang yakni Way Bulok, Way Mincang, Way Kedondong, Way Tabak Dan Way Awi.

Nenek moyang Lampung Saibati Bandar Lima Way Lima dipercaya berasal dari Kerajaan Sekala Brak Kuno yang dikenal dengan Suku Tumi. Pendapat ini erat kaitannya dengan kedatangan empat putra Raja Pagaruyung yang menyebarkan agama Islam dan menaklukan Kerajaan Sekala Brak kuno. Dalam novel Perempuan Penunggang Harimau, M. Harya Ramdhoni menyebut Kerajaan Sekala Brak kuno ini terakhir dipimpin oleh seorang ratu bernama Umpu Sekekhummong atau Ratu Sekerumong yang memiliki satu putra bernama Pangeran Kekuk Suik dan satu putri bernama Dalom Umpu Sindi.

Setelah menaklukan Kerajaan Sekala Brak yang masih menganut agama Hindu itu, empat pangeran Raja Pagaruyung yang belakangan mendirikan Kerajaan Paksi Pak Sekala Brak berhasil mengislamkan Suku Tumi kecuali Pangeran Kekuk Suik dan pengikutnya yang melarikan diri ke arah pesisir.

Dari waktu ke waktu kelompok tersebut membawa anak saudaranya untuk membuka hutan belantara yang masih luas terbentang di daerah pedalaman. Lama kelamaan terbentuklah perkampungan yang di hun oleh banyak penduduk yang kemudian di bentuk pemerintahan daerah berdasarkan adat istiadat daerah asalnya, yaitu kepunyimbangan Saibatin. Salah satu desa tertua yang paling dekat dengan daerah asalnya.

-Cukuh Balak yaitu Desa Gunung ditepian Way ( sungai) bulok yang semula bernama Desa Gunung Sugih sekarang masuk wilayah Kecamatan Bulok Kabupaten Tanggamus.

Sebelum orang- orang dari Cukuk Balak menyerbu daerah pedalaman terlebih dahulu di wilayah tertentu di huni oleh orang Pubian. Seperti dahulu ( Pagelaran) dan Way Semah – Padang Ratu ( Gedung Tataan). Berbagai cara di lakukan oleh warga pendatang untuk memperoleh tanah guna pemukiman mereka,terutama diwilayah yang telah ada penduduknya, antara lain dengan jalan:

1.     Membeli dari pemiliknya bagi mereka yang mampu

2.     Mengajar mengaji dan pengetahuan lainnya dengan mendapatkan isyarah berupa tanah bukan uang atau materi lainnya

3.     Hasil dari ada ketangkasan, kekuatan dan kepandaian dll. Sebelum bertarung diadakan perjanjian terlebih dahulu, apabila pendatang yang kalah mereka akan mengabadikan dirinya kepada penduduk setempat sebagai pemenang, tetapi sebaliknya, bila mereka yang menang, maka mereka akan mendapat imbalan berupa tanah.

Setelah Gunung Krakatau meletus tahun 1883 banyak warga dari sepanjang pesisir Teluk Semangka dan Teluk Lampung yang mengungsi dahulu karena daerah Pesisir sudah tidak layak untuk di huni. Selain Gunung Berapi yang berada di tengah Selat Sunda. Penduduk pendatang ketika harga cengkeh di daerah Cukuk Balak melambung pada tahun 1950an dengan membeli tanah harapan masa depan mereka. Jadi masyarakat Lampung Pesisir Way Lima mempunyai hubungan erat tak terpisahkan dari masyarakat yang berada di Kecamatan Cukuh Balak sekarang.

Sebelum bernama Way Lima daerah tempat tinggal yang baru mereka namakan menurut nama sungai setempat, seperti Way Bulok, Way Mincan, Way Rilau, Way Kubu Batu, Way Tabak, Way Kedondong, Way PadangRatu dsb.

Dari masa ke masa Desa – desa di aliran sungai tersebut berkembang seiring makin banyaknya penduduk,baik karena perkembangan penduduk itu sendiri maupun karena pendatang yang di pimpin oleh punyimbang ( saibatin) nya masing masing, dan kemudian mereka tunduk dan taat kepada adat istiadat menurut jurai ( asalnya)

Tahun 1928 penjajah Belanda mengeluarkan peraturan, bahwa untuk daerag Lampung harus di bentuk marga menurut kelompok daerah masing-masing. Untuk itu di Way Lima ( kala itu belum bernama Way Lima) ditetapkan 3 buah marga yaitu marga Putih, Marga Limau dan Marga Way Awi ( bagi mereka yang berasal dari Badak). Pada tahun 1930 oleh Belanda ke -3 marga tersebut harus di lebur menjadi satu, yang wilayahnya di kepalai oleh seorang Kepala Negeri.

Untuk melaksankan peraturan tersebut para kepala adat dan tokoh masyarakat setempat mengadakan musyawarah untuk memberi nama wilayah baru untuk menggantikan ke-3 marga itu. Akhirnya disepakati untuk memberi nama WAY LIMA.

Dasar dari pengetahuan nama Way Lima ini di ambil dari 2 kriteria yaitu:

1.     Berdasarkan 5 aliran sungai besar yang setiap musim kemarau panjang tidak pernah kering airnya, yaitu Way Bulok, Way Mincang, Way Kedondong, Way Tabak dab Way Awi. Meskipun ada juga sungai besar lainnya apabila musim kemarau panjang airnya keringnya seperti Way Penengahan, Way Rilau, Way Kubu Batu, Way Padang Ratu dsb. Bahkan kemudian hari diketahui di beberapa hulu sungai terdapat hasil tambang yang sangat banyak seperti, emas, besi, mangan dll.

2.     Berdasarkan 5 daerah asal usul penduduk pendatang dari daerah Pesisir dimana mereka tunduk secara adat menurut jurai atau kebuaiannya masing- masing yang di sebut Buai 5. Mereka yang berasal dari Limau ( Selimau ) ada yang tunduk di Kuripan dan ada pula yang tunduk di Padang ratu, yang dari Putih (Seputih ada yang tunduk pada Pangeran Putih yang di sebut Bandar Doh dan ada yang di atur dan tunduk pada Bandar Unggak. Sedangkan yang dari Badak ( Sebadak) tetap tunduk pada daerah asalnya – Badak.




by: al martapury

Sarekat Islam : Sejarah, Latar Belakang, Tokoh dan Kemuduran Organisasi Sarekat Islam (SI)

By david al martapury Sarekat Islam (SI)  – Ada banyak organisasi pergerakan nasional, salah satunya adalah Sarekat Islam. Syarikat Islam (S...