A. Struktur Budaya Lampung
Struktur dapat diartikan sebuah susunan
yang membahas mengenai bagaimana terbentuknya suatu bangunan. Dalam kebudayaan,
struktur ialah suatu hal yang selalu dikaitkan dengan sebuah wujud kebudayaan.
Wujud kebudayaan dibagi menjadi tiga antara lain ialah kebudayaan yang berupa
gagasan, aktivitas, dan artefak atau hasil karya. Selain dari pembagian
tersebut terdapat klasifikasi lain. Klasifikasi tersebut membagi kebudayaan dalam
kebudayaan materiil dan kebudayaan nonmateriil.
Sedangkan budaya merupakan suatu gaya hidup
yang berkembang dalam suatu kelompok atau masyarakat, kemudian diwariskan
secara turun temurun dari generasi ke generasi berikutnya. Budaya menciptakan
adat istiadat, kemudian diterapkan oleh masyarakat, dan dipatuhi meskipun tidak
ada hukum yang tertulis mengenai penerapannya.
Jadi struktur budaya lampung adalah sebuah
susunan gaya hidup yang berkembang dalam suatu kelompok atau masyarakat
lampung. Unsur budaya merupakan sistem kekerabatan dan organisasi sosial.
kehidupan berbagai kelompok masyarakat diatur oleh adat istiadat di dalam lingkungan. “Saibatin”
bermakna satu batin atau memiliki satu junjungan. Hal ini sesuai dengan tatanan
sosial dalam Suku Saibatin, hanya ada satu raja adat dalam setiap generasi
kepemimpinan. Suku Saibatin merupakan salah satu suku asli dari Provinsi
Lampung. Suku Saibatin mendiami daerah pesisir Lampung yang membentang dari
timur, selatan, hingga barat.
Budaya Suku Saibatin cenderung bersifat
aristokratis karena kedudukan adat hanya dapat diwariskan melalui garis
keturunan. Masyarakat adat Lampung Pepadun adalah salah satu dari dua kelompok
adat besar dalam masyarakat Lampung. Masyarakat ini mendiami daerah pedalaman
atau daerah dataran tinggi Lampung. Berdasarkan sejarah perkembangannya,
masyarakat Pepadun awalnya berkembang di daerah Abung, Way Kanan, dan Way
Seputih (Pubian)
B. Unsur-Unsur Kebudayaan di Daerah Lampung
Bahasa
Dari segi bahasa dan logatnya sudah bisa
kita bedakan mana masyarakat lampung pepadun dan mana masyarakat pesisir,
masyarakat pepadun menggunakan bahasa dengan dialek O (Nyo). Sedangkan
masyarakat pesisir menggunakan bahasa dialek A (Api). Contoh penyebutan dialek
A “Apa” penggunaan artinya (Api Kabar) sedangkan dialek O penggunan “Apa”
kalimat yang digunakan ‘Nyo Khabar’ artinya (Apa Kabar).
Bahasa-bahasa yang digunakan di Lampung merupakan cabang Sundik
yakni berasal dari rumpun bahasa Melayu-Polinesia barat. Bahasa ini digunakan
tidak hanya di propinsi Lampung saja namun bagian Selatan Palembang dan Pantai
Barat Banten juga menggunakan bahasa tersebut. Adapun aksara lampung yang
disebut Had Lampung(KaGaNga). Aksara ini ditulis dan dibaca dari kiri ke kanan
dengan Huruf Induk berjumlah 20 buah. Had Lampung ini dipengaruhi oleh dua
unsur, yaitu:
1)
Aksara Pallawa
(India Selatan) berupa suku kata yang merupakan huruf hidup.
2)
Huruf Arab,
menggunakan tanda-tanda fathah di baris atas dan tanda-tanda kasrah di baris
bawah tapi tidak menggunakan tanda dammah di baris depan melainkan menggunakan
tanda di belakang dan masing-masing tanda mempunyai nama sendiri.
Berdasarkan peta bahasa, bahasa Lampung
memiliki dua subdialek:
1)
Dialek Belalau (Dialek Api), terbagi menjadi:
· Bahasa Lampung Logat Belalau dipertuturkan
oleh Etnis Lampung yang berdomisili di Kabupaten Lampung Barat yaitu Kecamatan
Balik Bukit, Batu Brak, Belalau, Suoh, Sukau, Ranau, Sekincau, Gedung Surian,
Way Tenong dan Sumber Jaya. Kabupaten Lampung Selatan di Kecamatan Kalianda,
Penengahan, Palas, Pedada, Katibung, Way Lima, Padangcermin, Kedondong dan
Gedongtataan. Kabupaten Tanggamus di Kecamatan Kotaagung, Semaka, Talangpadang,
Pagelaran, Pardasuka, Hulu Semuong, Cukuhbalak dan Pulau Panggung. Kota Bandar
Lampung di Teluk Betung Barat, Teluk Betung Selatan, Teluk Betung Utara,
Panjang, Kemiling dan Raja Basa. Banten di di Cikoneng, Bojong, Salatuhur dan
Tegal dalam Kecamatan Anyer, Serang.
· Bahasa Lampung Logat Krui dipertuturkan
oleh Etnis Lampung di Pesisir Barat Lampung Barat yaitu Kecamatan Pesisir
Tengah, Pesisir Utara, Pesisir Selatan, Karya Penggawa, Lemong, Bengkunat dan
Ngaras.
· Bahasa Lampung Logat Melinting
dipertuturkan Masyarakat Etnis Lampung yang bertempat tinggal di Kabupaten
Lampung Timur di Kecamatan Labuhan Maringgai, Kecamatan Jabung, Kecamatan Pugung
dan Kecamatan Way Jepara.
· Bahasa Lampung Logat Way Kanan
dipertuturkan Masyarakat Etnis Lampung yang bertempat tinggal di Kabupaten Way
Kanan yakni di Kecamatan Blambangan Umpu, Baradatu, Bahuga dan Pakuan Ratu.
· Bahasa Lampung Logat Pubian dipertuturkan
oleh Etnis Lampung yang berdomosili di Kabupaten Lampung Selatan yaitu di
Natar, Gedung Tataan dan Tegineneng. Lampung Tengah di Kecamatan
Pubian dan Kecamatan Padangratu. Kota Bandar Lampung Kecamatan Kedaton,
Sukarame dan Tanjung Karang Barat.
· Bahasa Lampung Logat Sungkay dipertuturkan
Etnis Lampung yang Berdomisili di Kabupaten Lampung Utara meliputi Kecamatan
Sungkay Selatan, Sungkai Utara dan Sungkay Jaya.
· Bahasa Lampung Logat Jelema Daya atau Logat
Komring dipertuturkan oleh Masyarakat Etnis Lampung yang berada di Muara Dua,
Martapura, Komring, Tanjung Raja dan Kayuagung di Propinsi Sumatera Selatan.
2)
Dialek Abung (Dialek Nyow), terbagi menjadi:
· Bahasa Lampung Logat Abung Dipertuturkan
Etnis Lampung yang yang berdomisili di Kabupaten Lampung Utara meliputi
Kecamatan Kotabumi, Abung Barat, Abung Timur dan Abung Selatan. Lampung Tengah
di Kecamatan Gunung Sugih, Punggur, Terbanggi Besar, Seputih Raman, Seputih
Banyak, Seputih Mataram dan Rumbia. Lampung Timur di Kecamatan Sukadana, Metro
Kibang, Batanghari, Sekampung dan Way Jepara. Kota Metro di Kecamatan Metro
Raya dan Bantul. Kota Bandar Lampung di Gedongmeneng dan Labuhan Ratu.
· Bahasa Lampung Logat Menggala Dipertuturkan
Masyarakat Etnis Lampung yang bertempat tinggal di Kabupaten Tulang Bawang
meliputi Kecamatan Menggala, Tulang Bawang Udik, Tulang Bawang Tengah, Gunung
Terang dan Gedung Aji.
2. Sistem Arsitektur
Arsitektur tradisional Lampung umumnya
terdiri dari bangunan tempat tinggal disebut Lamban, Lambahana atau Nuwou,
bangunan ibadah yang disebut Mesjid, Mesigit, Surau, Rang Ngaji, atau Pok
Ngajei, bangunan musyawarah yang disebut sesat atau
bantaian, dan bangunan penyimpanan bahan makanan dan benda pusaka yang disebut
Lamban Pamanohan.
Rumah orang Lampung biasanya didirikan
dekat sungai dan berjajar sepanjang jalan utama yang membelah kampung, yang
disebut tiyuh. Setiap tiyuh terbagi lagi ke dalam beberapa bagian yang disebut
bilik, yaitu tempat berdiam buway . Bangunan beberapa buway membentuk kesatuan
teritorial- genealogis yang disebut marga. Dalam setiap bilik terdapat sebuah
rumah klen yang besar disebut nuwou menyanak. Rumah ini selalu dihuni oleh
kerabat tertua yang mewarisi kekuasaan memimpin keluarga.
Arsitektur lainnya adalah “lamban pesagi”
yang merupakan rumah tradisional berbentuk panggung yang sebagian besar terdiri
dari bahan kayu dan atap ijuk. Rumah ini berasal dari desa Kenali Kecamatan
Belalau, Kabupaten Lampung Barat. Ada dua jenis rumah adat Nuwou Balak aslinya
merupakan rumah tinggal bagi para Kepala Adat (penyimbang adat), yang dalam
bahasa Lampung juga disebut Balai Keratun. Bangunan ini terdiri dari beberapa
ruangan, yaitu Lawang Kuri (gapura), Pusiban (tempat tamu melapor) dan Ijan
Geladak (tangga “naik” ke rumah); Anjung-anjung (serambi depan tempat menerima
tamu), Serambi Tengah (tempat duduk anggota kerabat pria), Lapang Agung (tempat
kerabat wanita berkumpul), Kebik Temen atau kebik kerumpu (kamar tidur bagi
anak penyimbang bumi atau anak tertua), kebik rangek (kamar tidur bagi anak
penyimbang ratu atau anak kedua), kebik tengah (yaitu kamar tidur untuk anak
penyimbang batin atau anak ketiga).
Bangunan lain adalah Nuwou Sesat. Bangunan
ini aslinya adalah balai pertemuan adat tempat para purwatin (penyimbang) pada
saat mengadakan pepung adat (musyawarah). Karena itu balai ini juga disebut
Sesat Balai Agung. Bagian bagian dari bangunan ini adalah ijan geladak (tangga
masuk yang dilengkapi dengan atap). Atap itu disebut Rurung Agung. Kemudian
anjungan (serambi yang digunakan untuk pertemuan kecil, pusiban (ruang dalam
tempat musyawarah resmi), ruang tetabuhan (tempat menyimpan alat musik tradisional), dan ruang Gajah
Merem ( tempat istirahat bagi para penyimbang) . Hal lain yang khas di rumah
sesat ini adalah hiasan payung- payung besar di atapnya (rurung agung), yang
berwarna putih, kuning, dan merah, yang melambangkan tingkat kepenyimbangan
bagi masyarakat tradisional Lampung Pepadun.
Sistem organisasi sosial
Masyarakat Lampung merupakan masyarakat
dengan sistem menurut garis ayah (Geneologis-Patrilinial), yang terbagi-bagi
dalam masyarakat keturunan menurut Poyang asalnya masing-masing yang disebut
“buay”. Setiap kebuayan itu terdiri dari berbagai “jurai” dari kebuwaian, yang
terbagi-bagi pula dalam beberapa kerabat yang terikat pada satu kesatuan rumah
asal (nuwou tubou, lamban tuha).
Kemudian dari rumah asal itu terbagi lagi
dalam beberapa rumah kerabat (nuwou balak, lamban gedung). Ada kalanya
buay-buay itu bergabung dalam satu kesatuan yang disebut “paksi”. Setiap
kerabat menurut tingkatannya masing-masing mempunyai pemimpin yang disebut
“penyimbang” yang terdiri dari anak tertua laki-laki yang mewarisi kekuasaan
ayah secara turun temurun.
Hubungan kekerabatan adat lampung terdiri
dari lima unsur yang merupakan lima kelompok. Pertama, kelompok wari atau adik
wari, yang terdiri dari semua saudara laki-laki yang bertalian darah menurut
garis ayah, termasuk saudara angkat
yang bertali darah.
Kedua, kelompok lebuklama yang terdiri dari saudara laki-laki dari nenek
(ibu dari ayah) dan keturunannya dan saudara laki-laki dari ibu dan
keturunannya. Ketiga, kelompok baimenulung yang terdiri dari saudara-saudara
wanita dari ayah dan keturunannya. Keempat, kelompok kenubi yang terdiri dari
saudara-saudara karena ibu bersaudara dan keturunannya. Kelima, kelompok
lakau-maru, yaitu para ipar pria dan wanita serta kerabatnya dan para saudara
karena istri bersaudara dan kerabatnya.
Bentuk perkawinan yang berlaku adalah
partrilokal dengan pembayaran
jujur (ngakuk mulei), dimana setelah kawin mempelai wanita mengikuti dan
menetap dipihak kerabat suami, atau juga dalam bentuk marilokal (semanda)
dimana setelah kawin suami ikut pada kerabat istri dan menetap di tempat istri.
Untuk mewujudkan jenjang perkawinan dapat
ditempuh dalam dua cara, yaitu cara kawin lari (sebambangan) yang dilakukan
bujang-gadis sendiri dan cara pelamaran orang tua (cakak sai tuha) yang
dilakukan oleh kerabat pihak pria kepada kerabat pihak wanita.
Perkawinan yang ideal dikalangan orang
lampung adalah pria kawin dengan wanita anak saudara wanita ayah (bibik,
keminan) yang disebut “ngakuk menulung” atau dengan anak saudara wanita ibu
(ngakuk kenubi)/ perkawinan yang tidak disukai adalah pria dan wnaita anak
saudara laki-laki ibu (ngakuk kelana) atau dengan anak wanita saudara
laki-lakinya (ngakuk bai/wari) atau juga dengan anak dari saudara pria nenek
dari ayah (ngakuk lebu). Lebih-lebih tidak disukai kawin dengan suku lain (ulun
lowah) atau orang asing. Apalagi berlainan agama (sumang agamou).
Jika dari suatu ikatan perkawinan tidak
mendapatkan keturunan sama sekali, maka untuk menjadi penerus keturunan ayah,
dapat diangkat anak tertua dari adik laki-laki atau anak kedua dari kakak
laki-laki untuk menegakkan (tegak tegi) keturunan yang putus (maupus). Jika
tidak ada anak-anak saudara yang bersedia diangkat dapat mengangkat orang lain
yang bukan anggota kerabat, asal saja disahkan dihadapan kerabat dan prowitan
adat. Tetapi jika hanya mempunyai anak wanita, maka anak itu dikawinkan dengan
saudara misalnya yang laki-laki/ anak wanita itu dijadikan kedudukan laki-laki
dan melakukan perkawinan semanda ambil suami (ngakuk ragah). Dengan begitu maka
anak laki-laki dari perkawinan mereka kelak akan menggatikan kedudukan kakeknya
sebagai waris mayorat sehingga keturunan keluarga tersebut tidak putus (mak
mupus).
4. Sistem peralatan hidup dan teknologi
a. Tapis
Tapis adalah kain khas Lampung yang terbuat
dari tenunan benang kapas dengan hiasan motif, sulaman benang emas atau perak.
Kerajinan ini dibuat oleh wanita, baik ibu rumah tangga maupun gadis-gadis
(muli-muli) yang pada mulanya untuk mengisi waktu senggang dengan tujuan untuk
memenuhi tuntutan adat istiadat yang dianggap sakral. Kain Tapis saat ini
diproduksi oleh pengrajin dengan ragam hias yang bermacam-macam sebagai barang
komoditi yang memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi. Tapis dapat
dibedakan menurut pemakaiannya, seperti contohnya:
· Tapis Jung Sarat: Dipakai oleh pengantin wanita pada upacara
perkawinan adat. Dapat juga dipakai oleh kelompok isteri kerabat yang lebih tua
yang menghadiri upacara mengambil gelar, serta muli cangget (gadis penari) pada
upacara adat.
· Tapis Bidak Cukkil: Model kain Tapis ini dipakai oleh laki-laki
pada saat menghadiri upacara-upacara adat.
· Tapis Silung: Dipakai oleh kelompok orang tua yang tergolong
kerabat dekat pada upacara adat seperti mengawinkan anak, pengambilan gelar,
khitanan dan lain-lain. Dapat juga dipakai pada saat pengarakan pengantin.
· Tapis Tuho: Tapis ini dipakai oleh seorang isteri yang suaminya
sedang mengambil gelar sutan. Dipakai juga oleh kelompok orang tua (mepahao)
yang sedang mengambil gelar sutan serta oleh isteri sutan dalam menghadiri
upacara pengambilan gelar kerabatnya yang dekat.
b. Jangat
Jangat adalah alat untuk menghaluskan
belahan-belahan rotan. Dibuat dari bahan besi lengkung tipis dan tajam yang
ditancapkan di atas potongan batang kayu. Mata pisaunya dibuat sendiri atau
dapat dibeli. Cara pemakaiannya adalah: belahan-belahan rotan yang panjang
dimasukkan di antara kedua pisau besi itu, kemudian silih berganti ditarik.
c. Teknologi Industri
Sebagai gerbang Sumatera, di Lampung sangat
potensial berkembang berbagai jenis industri. Mulai dari industri kecil
(kerajinan) hingga industri besar, terutama di bidang agrobisnis.Industri
penambakan udang termasuk salah satu tambak yang terbesar di dunia setelah
adanya penggabungan usaha antara Bratasena, Dipasena dan Wachyuni
Mandira.Terdapat juga pabrik gula dengan produksi per tahun mencapai 600.000
ton oleh 2 pabrik yaitu Gunung Madu Plantation dan Sugar Group. di tahun 2007
kembali diresmikan pembangunan 1 pabrik gula lagi dibawah PT. Pemuka Sakti
Manis Indah (PSMI) yang diproyeksikan akan mulai produksi pada tahun
2008.Industri agribisnis lainnya: ketela (ubi), kelapa sawit, kopi robusta,
lada, coklat, kokoa, nata de coco dan lain-lain.
5. Sistem ekonomi dan mata pencaharian hidup
Aktifitas produksi di Lampung yang utama
adalah pertanian, termasuk perkebunan, kehutanan dan budidaya perikanan.
Propinsi Lampung adalah penghasil utama kopi Robusta; dimana Lampung adalah
salah satu yang terluas daerah perkebunan kopinya. Penghasil utama di bidang
pertanian adalah padi, minyak kelapa, kopi, cengkeh, dan hasil pertanian
lainnya, peternakan dan perikanan. Produksi kopi, minyak kelapa, dan makanan
dalam kemasan, minyak, kayu lapis dan produksi kayu lainnya. Selain itu,
Lampung juga penghasil buah-buahan tropis seperti: mangga, rambutan, durian,
pisang, nanas, dan jeruk. Hasil panen utama yang lain adalah kelapa, karet
mentah, minyak kelapa, coklat, lada dan sejenisnya.
Mata pencaharian masyarakat pedalaman (pepadun) berfokus pada
pengembangan lahan bagi perkebunan besar seperti kelapa sawit, karet, padi, singkong, kakao, lada hitam, kopi,
jagung, tebu dll. Dan di beberapa daerah pesisir (sai batin), kebanyakan
nelayan. komoditas perikanan seperti tambak udang untuk tingkat nasional dan
internasional.
6. Sistem kepercayaan (religi)
Menurut salah satu teori asal-usul
terbentuknya masyarakat Lampung, penduduk Lampung yang berasal dari Sekala
Brak, di kaki Gunung Pesagi, Lampung Barat disebut Tumi (Buay Tumi) menganut
kepercayaan dinamis, yang dipengaruhi ajaran Hindu Bairawa. Buai Tumi kemudian
kemudian dapat dipengaruhi empat orang pembawa Islam berasal dari Pagaruyung,
Sumatera Barat yang datang ke sana.
Masyarakat Lampung didominasi oleh agama
Islam, namun terdapat juga agama Kristen, Katolik, Budha dan Hindu. Untuk
Lampung, persatuan adat, kekerabatan, kerajaan, (ke)marga(an), dan semacamnya
memang lebih kental dalam bentukan identitas kolektif. Aspek agama Islam,
ternyata memberikan warna dan pencitraan tersendiri dalam kaidah kelembagaan
maupun kebudayaan.
Faktor alamiah, yang membuat identifikasi
awal misalnya pranata sosial masyarakat dengan mentalitas Islam, religiositas
tradisi, kebajikan- kebajikan sosial, kecenderungan untuk hidup bersama,
kehalusan budi, dan conformism merupakan ciri-ciri peradaban Islam yang melekat
dalam adat Lampung. Aplikasi nilai-nilai agama juga ternyata berpengaruh
menimbulkan transformasi manusia dan kebudayaan di Lampung.
Masyarakat Lampung mengenal berbagai
tradisi atau upacara yang tidak trerlepas dari unsur keagamaan. Dalam
masyarakat Lampung ada beberapa bagian siklus kehidupan seseorang yang dianggap
penting sehingga perlu diadakan upacara-upacara adat yang bercampur dengan
unsur agama Islam. Di antaranya adalah:
1)
Upacara kuruk liman, disaat kandungan umur 7
bulan.
2)
Upacara saleh darah yaitu upacara kelahiran.
3)
Upacara mahan manik yaitu upacara turun
tanah, bayi berumur 40 hari.
4)
Upacara khitanan bila bayi berumur 5 tahun.
5)
Upacara serah sepi bila anak berumur 17
tahun dan sebagainya.
6)
Juga upacara perkawinan, kematian dan upacara adat lainnya seperti cokok
pepadun yaitu pelantikan pengimbang baru sebagai kepala adat.
7. Kesenian
Sastra lisan merupakan salah satu tradisi
khas masyarakat Lampung. Ada berbagai jenis syair yang dikenal masyarakat
Lampung, diantaranya pattun (pantun), pepatcur, pisaan, adi-adi, segata,
sesikun, memmang, wawancan, hahiwang,dan wayak. Sifat-sifat orang Lampung juga
diungkapkan dalam sebuah adi-adi (pantun):
Tandani hulun Lampung, wat piil-pusanggiri
Mulia hina sehitung, wat malu rega diri
Juluk-adok ram pegung, nemui-nyimah muwari
Nengah-nyampur mak ngungkung, sakai-sambaian gawi
Sifat yang tergambar dalam pantun di atas
antara lain: piil-pusanggiri (malu melakukan pekerjaan hina menurut agama serta
memiliki harga diri), juluk- adok (mempunyai kepribadian sesuai dengan gelar
adat yang disandangnya), nemui-nyimah (saling mengunjungi untuk bersilaturahmi
serta ramah menerima tamu), nengah-nyampur (aktif dalam pergaulan bermasyarakat
dan tidak individualistis), dan sakai-sambaian (gotong- royong dan saling
membantu dengan anggota masyarakat lainnya).
Seni sastra dapat dijumpai di berbagai
aspek budaya masyarakat Lampung. Misalnya, di upacara perkawinan, seperti
petikan syair di bawah ini:
Jak ipa niku kuya
Jak pedom lungkop-lungkop
Badan mak rasa buya
Ngena kebayan sikop
Artinya:
Dari mana kau kuya (nama binatang air)
Dari tidur berbalik-balik
Badan tiada letih
Dapat pengantin cantik
Petikan tulisan ini adalah wayak, sebuah
puisi lama dari khasanah sastra lisan Lampung dan dikenal di Pesisir Lampung.
Wayak Jak Ipa Niku Kuya ini seperti terpatri dalam ingatan seorang anak Lampung
karena sering dilafalkan saat mengiringi prosesi perkawinan adat Lampung.
Isinya, sebuah sindirin bagi seseorang (diibaratkan kuya) yang pemalas, tetapi
(seperti mimpi) tiba-tiba mendapatkan gadis cantik. Sindir-menyindir dalam
bahasa yang penuh petatah-petitih, tradisi ini masih kuat dalam masyarakat
tradisional Lampung di umbul-umbul (sejenis desa).
Sastra lisan Lampung juga mengenal warahan,
semacam kisah rakyat yang dituturkan seorang pewarah (semacam pengisah atau
pendongeng) kepada seseorang atau khalayak. Dalam perkembangannya, warahan
dapat berbentuk puisi, puisi lirik, atau prosa, tergantung dari kemampuan di pewarah
dalam bertutur. Kalau kemudian ada kreativitas yang berupaya memasukkan warahan
dalam seni olah peran, teater modern, itu karena memang dalam tradisi warahan,
terdapat unsur-unsur olah vokal dan sesekali pewarah menirukan gerak tokoh yang
ia ceritakan, meskipun dalam bentuk yang sangat sederhana.
C. Wujud-wujud Kebudayaan di Daerah Lampung
1. Siger Sebagai Simbol Propinsi
Lampung
Benda ini sangat dikenal di Lampung. Karena
dikenal dan termasuk dalam ciri khas budaya maka menjadi simbol khas daerah ini.
Siger sendiri sangat identik dengan mahkota pengantin wanita Lampung yang
berbentuk segitiga. Warnanya emas dan biasanya
memiliki cabang atau lekuk berjumlah sembilan atau tujuh. Di masa kini siger
bukan cuma sebagai mahkota pengantin. Benda ini juga bisa sebagai perhiasan
yang dipakai sehari-hari. Ada yang bilang bentuknya mirip dengan Rumah Gadang
kerajaan Pagaruyung.
Siger merupakan benda untuk kepentingan
acara adat yang penting dalam ritual tradisional masyarakat Lampung. Mahkota
ini menjadi simbol kehormatan dan status sosial seseorang dalam masyarakat
Lampung. Secara umum, variasi bentuk siger berkembang seiring perkembangan
tradisi di dalam masyarakat adat di Lampung. Bisa terlihat dari perbedaan
bentuk siger dalam masyarakat adat Saibatin dan Pepadun.
Selain perbedaan dari kedua masyarakat adat
tersebut, masuknya kebudayaan Hindu-Buddha dan Islam juga ikut memperkaya
variasi bentuk siger yang ada di wilayah tertentu. Kini siger
bukan hanya digunakan sebagai mahkota pada acara adat Suku Lampung, namun juga
telah menjadi icon berupa hiasan dan lambang kebanggaan Provinsi Lampung. Anda
bisa melihat contoah siger Lampung dalam ukuran besar di daerah Kabupaten
Lampung Selatan, tepatnya di dekat pelabuhan Bakauheni. Menara raksasa ini
diberi nama Menara Siger.
2. Tradisi Suku Lampung
Upacara Pernikahan, dalam hal
perkawinan ada 2 jenis Status Perkawinan, yaitu:
a. Djujor adalah proses dimana Muli yang diambil
oleh Mekhanai untuk menjadi istrinya, maka sang Mekhanai dan Keluarganya harus
menyerahkan atau membayar Uang Adat kepada ahli si Muli berdasarkan permintaan
dari ahli Keluarga si Muli. Sedangkan permintaaan si Muli kepada sang Mekhanai
disebut Kiluan juga harus dibayar atau dipenuhi oleh sang Mekhanai Kiluan yang
menjadi hak si Muli.
b.
Semanda Raja Raja Pada Semanda Raja Raja awalnya
sang pria setelah pernikahan harus tinggal terlebih dahulu di tempat si wanita
dengan tidak ditentukan masanya, artinya si suami boleh menunggu istrinya di
rumah mertuanya sampai mati atau boleh juga untuk beberapa bulan atau beberapa
tahun saja. Tetapi bisa juga bila keduanya sepakat dan menginginkan tinggal di
tempat lain yang menurut perkiraan mereka akan mendapat kehidupan yang lebih
baik maka keluarga kedua belah pihak tidak boleh menahannya.
3. Rumah Adat Lampung Nuwou Sesat
Rumah adat ini berasal dari 2 kata, yaitu
Nuwou yang berarti rumah dan sesat yang berarti adat. Nuwou Sesat sebetulnya
memiliki fungsi utama sebagai balai atau tempat pertemuan bagi seluruh warga
kampung (purwatin).
Struktur Rumah Adat Lampung Nuwou Sesat
hampir sama dengan rumah adat suku asli Sumatera lainnya. Rumah adat Lampung
ini berbentuk panggung dengan bahan utama berupa kayu atau papan. Struktur
rumah panggung pada rumah Nuwou Sesat pada masa silam ditujukan sebagai upaya
untuk menghindari serangan binatang buas bagi penghuninya. Selain itu, struktur
panggung juga sengaja digunakan sebagai desain rumah tahan gempa. Sebagaimana
diketahui, beberapa daerah di Lampung juga dikenal berada di lempeng perbatasan
antar benua sehingga sering mengalami bencana gempa.
Adapun di bagian dalamnya, rumah Nuwou
Sesat terdiri atas beberapa ruangan dengan fungsinya masing-masing. Beberapa
ruangan tersebut antara lain Pusiban (ruang tempat musyawarah), Tetabuhan
(tempat penyimpanan alat musik tradisional dan pakaian adat Lampung), Gajah
Merem (tempat Penyimbang beristirahat), dan Kebik tengah (tempat tidur untuk
anak penyimbang).
Dengan struktur rumah panggung, dibutuhkan
sebuah tangga sebagai akses keluar masuk rumah. Dalam adat Lampung, tangga
tersebut bernama Ijan Geladak. Tangga ini terletak di bagian depan rumah
sehingga sering kali dihiasi dengan ukiran-ukiran etnik Lampung untuk
mempercantik tampak depannya. Bagian depan rumah adat Lampung umumnya juga akan dilengkapi
dengan serambi kecil yang bernama anjungan. Anjungan berfungsi sebagai tempat
pertemuan kecil atau sebagai tempat bersenda gurau. Salah satu yang menjadi
keunikan dari rumah adat Lampung adalah beragam ornamen yang sering dipajang di
setiap bilik rumahnya. Ornamen- ornamen ini berisi petuah yang diambil dari
kitab kuno peninggalan leluhur Lampung yang bernama kitab Kuntara Raja Niti.
Kitab ini mengandung beberapa prinsip yang wajib dianut oleh setiap keturunan
suku Lampung. Beberapa prinsip dari kitab tersebut antara lain:
• Pill-Pusanggiri. Prinsip adanya rasa malu
ketika melakukan sebuah kesalahan atau perbuatan yang buruk, baik menurut norma
agama maupun norma adat.
• Juluk-Adek. Prinsip bagi mereka yang telah
memiliki gelar adat agar dapat bersikap dan berkeperibadian yang bisa menjadi
contoh.
• Nemui-Nyimah. Prinsip untuk selalu menjaga
tali silaturahmi antar sanak keluarga dan selalu bersikap ramah pada tamu.
• Nengah-Nyampur. Prinsip untuk selalu
menjaga hubungan baik dalam kehidupan sosial dan bermasyarakat.
• Sakai-Sambaian. Prinsip saling tolong
menolong dan bergotong royong dalam setiap pekerjaan.
• Sang Bumi Ruwa Jurai. Prinsip untuk tetap
bersatu meski saling berbeda. Prinsip ini menyatukan suku Lampung adat Pepadun
dan adat Sebatin sehingga keduanya saling menghormati. Penerimaan yang baik dari
masyarakat Lampung terhadap para pendatang juga didasari atas prinsip ini.
